Henpon Bertuah

Judul apaan tuh..??

Setelah sekian lama tiada postingan, akhirnya blog ini kembali mengalami update. Harapannya ke depan updetan ga macet lagi... Amiin... Mohon do'a restu dari sesama blogger dimanapun berada...

Nahh..kembali ke judul... Saya ingin berbagi cerita tentang henpon saya yang sudah cukup umur untuk disebut sesepuh dalam dunia perhenponan. Kenapa saya namakan dengan dengan henpon bertuah? Ceritanya begini; henpon ini saya beli menjelang akhir tahun 2004 yang lalu, setelah gencar-gencarnya pemilu di pertengahan tahun itu. Lama juga kan..? hehehe.. mereknya Nokiyem tipe 3350, dengan harga yang cukup menguras budget uang saku dalam sebulan buat saya yang masih kuliah kala itu. Saya tertarik dengan henpon ini karena termasuk barang yang cukup canggih di jamannya, -menurut saya lhoo...- selain itu itung-itung bantu teman yang juga lagi perlu duit. Maka dapatlah oleh saya momentum untuk mendapatkan harga yang rada mirin, walaupun tidak miring-miring banget, -ntar kepleset...-. Benda ini termasuk barang langka di era blekberi maupun i-pon sekarang ini, tapi ada sisi lain yang membuat saya tidak -mungkin bisa juga dikatakan "belum"- berpaling hati kepada henpon lain.

Pertama, ini henpon pertama saya... Yaaa..mirip-mirip cinta pertama yang susah dilupakan laah.. Ihik..ihik...~_~
Kedua, henpon ini termasuk barang tangguh yang tahan banting, sudah beberapa kali jatuh dari atas meja setinggi satu meter lebih tapi tetap selamat sentosa. MERDEKA..!!!^_^v
Ketiga, sudah pernah kecopetan, tapi kembali lagi ke tangan saya. Tanggal kecopetan pun masih saya ingat, 7 Maret 2007. Persis saat pesawat Garuda tergelincir dan terbakar di bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Jamnya mungkin berdekatan dengan saat pesawat naas itu tergelincir, sekitar jam 7 pagi.
henpon bertuahKeempat, henpon ini telah menemani saya kemana-mana, dengan kata lain "Tak Henpon Kemana-mana..." sehingga saya merasakan kedekatan batin yang sulit untuk dipisahkan dengan dengan henpon ini hingga saat ini... halahh...

Mau tau wujudnya kayak apa? Nihh.. Di samping, semoga gambarnya enggak BWK...

Kapan saya akan berpaling dan mengganti henpon saya ke model yang lain? Barangkali ketika Henpon Bertuah ini sudah tidak mampu lagi menjalankan tugasnya untuk membantu saya serta tidak tersedianya suku cadang yang menunjang "kehidupannya" yang juga menjadi bagian dari hidup saya.
So, pertanyaannya adalah; Sejauh mana kita menghargai apa yang kita miliki? Apalagi terhadap orang-orang yang kita cintai?^_^

# # # # # # PRO - MAAFIN # # # # # #

Kami... Admin Zool World...

Dengan ini menyatakan...
Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum...
Shiyaamanaa wa Shiyaamakum wa Kullu 'Aam wa Antum bikhayr...

Minal 'Aa`idiin wal Faa`iziin...

Mohon Maaf Lahir dan Batin...

Selamat Idul FitriHal-hal yang mengenai pembagian salam tempel, pencairan THR, tukeran link, update blog, dan lain-lain..

Diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya...




Bukittinggi, 10 September 2010 M / 1 Syawwal 1431 H


Atas Nama Keluarga Admin

ZOOL

Thompson Al-Ja`imiy (Part-3)

Ini adalah bagian ketiga dari dua cerita sebelumnya, bagi yang belum membaca dari awal, silakan menuju Part-1 dan Part-2.

Setelah Maghrib, Zool pergi menjemput celana yang dicuci di laundry tempat Thompson alias Tomi bekerja. Tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat kostnya. Dia meminjam motor temannya, dan setelah sampai di laundry yang dimaksud, sudah tak terlihat aktifitas yang cuci mencuci karena hari sudah mulai malam. Setelah memencet bel, keluarlah seseorang yang ternyata itu adalah Tomi, karyawan laundry tersebut. Terjadilah percakapan di antara mereka.

Zool:
"Mas saya mau ambil celana yang sudah dilaundry, ini notanya.."
Tomi:
"Oke Mas, ohh..ini dengan Mas Zool tadi ya... celananya tinggal bawa.. Silakan duduk dulu Mas, saya ambil dulu.." Sambil ke dalam mengambil celana yang dilaundry tersebut.
Zool:
"Iya Mas.. terimakasih.."
Tak lama kemudian, Tomi kembali membawa celana yang sudah dibungkus dengan plastik.
Tomi:
"Ini Mas celananya, kami juga mohon maaf karena keterlambatannya.. Maklum Mas, kondisi listrik juga ga bisa ditebak, trus juga pelanggan yang lain juga antri.."
Zool:
"Ga papa Mas, yang penting saya ga sering sarungan lagi di kost.. hehe.. oiya Mas., laundrynya tutup jam berapa Mas?"
Tomi:
"Kita tutup jam sembilan Mas, selesai kerja jam lima sore... Nah, setelah itu kita nunggu pelanggan yang yang mau jemput cuciannya, yaa kayak Mas Zool ini.."
Zool:
"Hmm.. gitu ya.. Mas Tomi, saya jadi penasaran dengan obrolan kita di telpon kemarin.."
Tomi:
"Obrolan yang mana Mas?"
Zool:
"yang itu lho.. Nama Mas Tomi itu..."
Tomi:
"Ooo.. itu.. hehehe.. Lha kenapa Mas? ada yang aneh dengan nama saya?"
Zool:
"Engga Mas.. saya cuma agak heran, kenapa Mas Tomi ga menggunakan nama asli aja, tapi malah pake nama Thompson..'
Tomi:
"Yaa..itu Mas, seperti yang saya bilang kemarin, itu sebagai sebuah branding buat saya. .kalo pake nama asli, ntar malah aneh Mas.."
Zool:
"Anehnya gimana Mas?"
Tomi:
"Jadi gini Mas, nama asli saya itu nuansa kampung banget lah.. Nahh, sementara saya bekerja di tempat yang bernuansa kota, yaa kayak laundry ini.. Kalo di kampung ato di desa mana ada orang nitip cucian ke laundry.. Kecuali orang yang cukup punya penghasilan ato bahkan berlebih.."
Zool:
"Trus hubungannya sama nama Mas Tomi sendiri apa Mas? iya..sebelumnya saya mohon maaf kalo cerewet gini ya Mas.. Saya orangnya suka penasaran.. hehe.."
Tomi:
"Ga papa Mas.. santai aja.. Jadi gini Mas, karena pekerjan saya bernuansa kota, maka saya pikir nama saya juga harus menyesuaikan dengan pekerjaan saya.. kecuali saya kembali ke kampung.. itu udah jelas.. sodara-sodara ato orang di kampung bakal manggil nama asli saya.."
Zool:
"Kampungnya jauh ya Mas?"
Tomi:
"Ya..agak ke pelosok lah Mas.. jalannya aja belum diaspal.. tapi Mas jangan heran, saya bisa ngomong kayak gini karena sering ngobrol-ngobrol sama pelanggan juga.. trus saya suka baca-baca dari kertas koran yang dipake pelangga yang datang buat nitip cuciannya ke sini Mas.. setiap ada sedikit waktu luang, saya sempatkan membaca Mas.. Walopun saya cuma tamat SMP di kampung sebelah kampung saya.."
Zool:
"Mmm begitu ya Mas.. Kampungnya persisnya dimana Mas?"
Tomi:
"Wahah..kalo itu ga usahlah Mas... di pelosok pokoknya... Mas ga bakalan betah kalo mampir di kampung saya.. Selain itu, cukup saya saja yang tau nama asli saya.. Cukup kenali saya dengan nama Tompson dan panggilan Tomi aja... Nama asli saya jelek Mas.. Saya malu.."
Zool:
"Okelah Mas.. ga papa... kalo begitu, saya balik ke kost dulu ya Mas.. Dah mau Isya.."
Tomi:
"Iya Mas...terimakasih sudah mempercayakan cuciannya ke sini ya Mas.. jangan kapok ya Mas...
Zool:
"Hahaha..gak lah Mas..kan yang penting sekarang saya pake celana sendiri lagi kalo pergi ke luar, lha ini..celana yang saya pake ini pinjem sama teman.."
Tomi:
"Hehehe..iya..iya.. kalo ada yang perlu dicuci di lain waktu, ke sini lgi Mas.."
Zool:
"InsyaAllah Mas..kalo gitu saya pamit ya Mas.. Assalamu'alaikum" (sambil menghidupkan motor)
Tomi:
"Wa'alaikum salam...hati-hati di jalan Mas.."
Zool:
"Oke Mas..." (sambil berlalu dari hadapan Tomi, pegawai laundry itu)

Selama perjalanan menuju kost, Zool berpikir; "orang yang misterius juga ya.. ga mau mengemukakan identitas aslinya karena alasan malu, tapi hobi membaca... trus juga ga mau memberitahu asal kampung halamannya karena juga malu berada di pelosok.. Kenapa jaim gitu ya? Apa karena pengaruh lingkungan membuat orang ingin menyesuaikan jatidirinya dengan mengorbankan identitas aslinya dengan nama lain yang menurutnya dapat mendongkrak popularitasnya dengan mengatas namakan branding serta differensiasi? Hmm..semakin aneh saja orang-orang seperti itu... Tapi hebat juga semangat bacanya... Kalo dikasih nama Arab jadi Thompson Al-Jai`imiy kali ya? Thompson Yang Suka Jaim.. hehehe... Ngasal aja... Udahlah.. Terserah dirimu lah Mas... yang jelas diriku ga sarungan lagi dan perbincangan kita tadi semakin menambah pemahamanku tentang berbagai macam karakter diri yang dimiliki banyak orang..."

3rd Award Dari Aul

Sobat sadayana... Kali ini saya dapat award lagi.. Award bernuansa agak magic dari Aul Home ini diberikan dalam rangka peringatan Posting Yang ke-100 dan follower yang ke-100 juga... kalo paringatan Tujuh Belasan yang jelas bukan sekarang... Iya tho..? "Betul..betul..betul..." Ipin said. Dan kali ini saya dapat award dalam kategori Very Nice Blog. Dalam pengertian, blog saya ini dikaruniai sebagai Blog yang sangat bagus, tidak hanya dari tulisan-tulisannya, tapi keseluruhan... Duh..jadi malu... Perasaan ini blog biasa-biasa aja...

Tapi apapun penilaiannya, penghargaan ini saya terima dengan rendah hati dan heppy sekali... Di sana saya dibebaskan milih bentuk awardnya. Jadi saya putuskan memilih yang seperti ini;

award blogger

Saya pilih yang nuansa ijo kayak gini, mirip cendol di KasKus aja... hehehe... Mantap, rame kayak lampu kanaval dan kelihatan ceria serta mendukung Go Green. Mari Selamatkan Bumi Kita.... Terimakasih buat Dek Aul, semoga persahabatan kita sebagai blogger semakin erat walaupun belum pernah bertemu. Bilo wak mandaki Marapi Aul? Nunggu salasai hiatus lo ndak? Tarimokasih, maturnuwun, gracias, syukran, grazie dan segala macam bentuk ucapan terimakasih di permukaan bumi ini... Ada yang mau nambahin?

2nd Award Dari Miss Rinda

Tampaknya kali ini blog saya ini bener-bener kelimpahan award. Setelah kemarin dapat award dari Om Rame, sekarang datang lagi kejutan award yang ke-dua dari Miss Rinda. Sama dengan award yang diberikan Om Rame kemarin, award kali ini diberikan dalam kategori yang sama, yaitu sebagai Top Komentator, (kandidat komentator Piala Dunia nih...) hehehe... Tapi kalo beruntung siapa yang bisa menduga, iya gak Sist and Bro? Ini yang disebut juga kecerewetan membawa berkah serta casciscus mendapatkan hadiah... Prikitiww..
Nah.. tanpa memperpanjang muqaddimah, inilah bentuk serta rupa-rupa warnanya Award dari Miss Rinda

award blogger dati Miss Rinda


Gimana? bagus ya... Kedip-kedip gitu... Gimana buatnya nih Miss? Ajarin saya yaa...? PM aja ke ane buat tutorialnya... Ntar klo PM sent, ane barterin sama cendol deh.. hehehe... KasKus banget, padahal belum ISO. Yang jelas, terimakasih buat Miss Rinda yang telah memberikan award untuk blog saya ini. Semoga persahabatan kita sebagai sesama blogger tetap terjalin erat dan tetap keep posting, berbagi pengalaman, tips, kisah hidup yang memberikan inspirasi serta pencerahan buat yang lainnya...

Terimakasih...

Thompson Al-Ja`imiy (Part-2)

Ini adalah lanjutan cerita kemarin yang sempat diselingi oleh Headline News tentang Award dari Om Rame. Bagi yang belum membaca bagian pertama silakan menuju Part-1

Pada hari berikutnya, anak kos tersebut kembali menelpon pihak laundry, yang kembali diangkat oleh Thompson alias Tomi, karyawan laundry tersebut.
Anak Kos:
"Assalamu'alaikum, dengan Laundry Bersih Cemerlang Sepanjang Hari?
Tomi:
"Wa'alaikum salam, iya betul Mas... Ada yang bisa saya bantu?"
Anak Kos:
"Wahh..ini dengan Mas Tomi kemarin ya?"
Tomi:
"Iya betul, ooo...ini Mas yang nelpon kemarin siang itu ya"
Anak Kos:
"Iya Mas, hehe...ternyata masih ingat.., oiya..gimana Mas, semua celana saya sudah selesai dilondri?"
Tomi:
"Ini baru pengeringan Mas, belum disetrika.."
Anak Kos:
"Kirain udah siap diambil... Jadi kira-kira saya bisa ngambilnya jam berapa Mas?
Tomi:
"Biar hasilny nggak keburu-buru bisa diambil habis Maghrib Mas"
Thompson Al-Ja'imiy (Part-2)
foto koleksi pribadi
Anak Kos:
"Oke, habis Maghrib ya Mas, jangan molor lagi nih... Ga enak sering minjam celana sama teman buat keluar.. selama di kos saya sarungan aja nih Mas..."
Tomi:
"Oke sip Mas... Nanti habis Maghrib Mas ambil kesini langsung sama saya.. Oiya, dari kemarin saya belum tau nama Mas, namanya siapa `e Mas?"
Anak Kos:
"Oiya ding... Nama saya Zool, Mas panggil aja itu... Kayaknya di Nota ada nama saya tuh.."
Tomi:
"Oiya..saya malah kelupaan nih Mas... Oke Mas Zool, saya tunggu nanti habis Maghrib ya..."
Anak Kos, sudah ketahuan namanya Zool:
"Oke Mas Tomi, sampe ketemu nanti ya... Assalaamu'alaikum..."
Tomi:
"Wa'alaikum salaam..." (Sambil menutup telpon)

Zool berkata dalam hati "(sarungan sampe maghrib nih... ya udahlah, baca-baca koran di depan aja, lagian sarungan begini juga adem kok)" kemudian Zool menuju ke tempat tumpukan koran di pondokannya sampai menunggu saat penjemputan...

Nyambung lagi ke Part-3... Hehehe...


1st Award Dari Om Rame "Disiniii..."

Sobat semuanya...

Kali ini saya dapat kejutan berupa saweran dari Om Rame yang kalo mampir di Buku Tamu sering histeris dengan satu kata yang cukup menghiris hati yang berbunyi; "Disiniii...".

Saya kira ada apa-apa, kemudian saya langsung ke TeKaPe yaitu lokasi Si Om berteriak... Ternyata ada postingan baru yang sebagian besar isinya banyak yang bikin saya ngakak, walaupun ada yang serius. Bahkan paling tidak gambar-gambar postingannya yang mengundang tawa, misalnya ketika Om Rame menulis tentang Pencitraan Status Sosial (ket-dulu linknya ada, sekarang udah ilang) dengan mengambil parameter keberadaan keramik di dalam rumah sebagai pelapis dinding maupun lantai. Lihat aja jenis keramik yang dipakai si Om untuk pasang gambarnya, ga ada yang jual, cuma satu itu yang pernah ada. Satu hal lagi, Om Rame punya slogan sendiri yang berbunyi; "Gak Ganteng Tapi Ngangenin". Bagi saya ini sebuah implementasi kepercayan diri. Mantap Om... Keep PeDe...

Nahh...sebelum post ini saya buat, Om Rame mengisi buku tamu saya ga seperti biasa, cukup dengan sebuah frasa; nyawer award. Wahh..ada apaan lagi nihh.. saya langsung ke TeKaPe lagi, biasanya ada postingan blognya si Om dapat award. Ternyata saya salah, ternyata lagi Om Rame ngasih Award untuk 40 Top Komentator dan itu termasuk saya... Pemberian Award ini sebagai sebuah Syukuran Om Rame atas koleksi awardnya yang ke-10, dan surprisenya lagi, saya berada di posisi peraih perunggu alias posisi Ketiga dalam jajaran Top Komentator sodara-sodara...*terharu... Oleh karena itu, maka dengan penuh keharuan saya boyong award tersebut dan maka lagi seperti inilah bentuk Award dari Om Rame... Silakan dilihat "Disiniii..."



Nahh... Demikianlah medali Award yang saya dapatkan sebagai sebuah apresiasi Om Rame terhadap para komentatornya... Terima kasih banyak kepada Om Rame atas apresiasi ini... Semoga award pertama bagi saya ini menjadi sebuah motivasi bagi saya untuk terus berkarya lewat tulisan di blog saya ini dalam menyikapi apa yang saya temukan, saya rasakan dan saya rasa penting untuk untuk pantas dituliskan walaupun terkadang susah dimengerti karena keterbatasan saya. Selain itu, semoga ini tetap menjadi jembatan persahabatan bagi sesama blogger dimanapun berada... Amiin...

Terima kasih...

Thompson Al-Ja`imiy (Part-1)

Seorang anak kos di Yogyakarta mondar mandir di depan kamar kosnya hanya dengan menggunakan kaos oblong dan sarung. Celananya yang dititipkan di sebuah laundry belum selesai dicuci karena laundry tersebut cukup laris dengan harga mahasiswa, sehingga pelanggan pun antri di sana. Dia mencoba menelpon ke laundry tersebut dan diangkat oleh seorang karyawan di sana;

Anak Kos:
"Hallo..Assalamu'alaikum, dengan Laundry Bersih Cemerlang Sepanjang hari ya Mas?"
Karyawan:
"Wa'alaikum salam...Iya, betul Pak... Ada yang bisa saya bantu Pak?"
Anak Kos:
"Hehehe...Gak usah pakai Pak lah Mas, saya masih anak kos..."
Karyawan:
"Ohh...iya...maaf Mas...ada yang bisa saya bantu Mas?"
Anak Kos:
"Gini Mas, kain saya yang saya titipkan dua hari yang lalu udah selesai belum Mas?"
Karyawan:
"Notanya nomor berapa ya Mas?"
Anak Kos:
"Mmm..nomor 231 Mas..."
Karyawan:
"Oke, saya lihat dulu ya Mas.."

Thompson Al-Ja`imiy (Part-1)
Source: juraganlondry.blogspot.com
Tak lama kemudian,
"Hallo, Mas..mohon maaf sekali ya Mas, ternyata belum dicuci.. maklumlah Mas... Beberapa hari ini PLN sering byar pet, jadinya pekerjaan kita di sini juga jadi terlambat..."
Anak Kos:
"Trus, jadinya selesai kapan Mas?"
Karyawan:
"Wah..Mas, kalo itu saya nggak bisa memastikan Mas, tergantung keadaan juga"
Anak Kos:
"Kira-kira aja Mas, selesainya kapan gitu..."
Karyawan:
"Yaa..kalo dikira-kira ya mungkin besok sore dah bisa diambil Mas"
Anak Kos:
"Oke kalo begitu besoklah saya hubungi lagi, oiya...ini dengan Mas siapa ya?"
Karyawan:
"Saya Thompson Mas, cukup panggil aja Tomi.."
Si Anak Kos mikir ("weww...karyawan laundry namanya Thompson, asli gak tuh namanya?")
Sambil terus penasaran Anak Kos bertanya:
"Maaf Mas, itu nama aslinya ya?"
Sekarang berganti menjadi Tomi:
"Ohh..sebenarnya enggak kok Mas, itu nama beken aja.."
Anak Kos:
"Nama beken..? Berarti nama aslinya bukan itu ya Mas?"
Tomi:
"Ya bukan Mas, nama ini sengaja saya pake sebagai sebuah branding aja Mas..."

Anak Kos geleng-geleng sambil membatin; ("buset dah.. pake branding ngandelin nama klonengan... Belajar sama siapa tuh? kok ngerti branding... Sama Pak HK yang pakar marketing itu kali ya?") Rasa penasarannya kembali buncah,
Anak Kos:
"Oiya Mas, kenapa nama Mas dijadiin branding? Apa gak ada nama yang lain Mas?"
Tomi:
"Ada sih Mas, tapi tak pikir-pikir...mendingan saya pake nama saya aja sekalian saya jadi beken mas...hihihi... Kan juga menciptakan sebuah diferensiasi dalam bisnis laundry ini Mas... Walopun saya bukan pemiliknya.."

Anak Kos membatin lagi; ("buju buneeng..tambah istilah lagi, diferensiasi..ini orang kutubuku kali ya? apa dapat ilmu tiban?") Anak kos nanya lagi..
Anak Kos:
"Maaf Mas, Masnya lulusan mana tho Mas? trus kok bisa ngerti istilah-istilah kayak gitu?"
Tomi:
"Masnya penasaran yaa...hehehe...Saya bukan lulusan mana-mana Mas, cuma tamatan eSeMPe... trus istilah kayak gitu saya dapat dari koran-koran yang dipake buat bungkusin kain yang udah selesai dilondri Mas.."
Anak Kos:
"Ooo..begituu tho...iya..iya..iya... ngerti saya...paham..paham, okelah Mas..besok sore ya saya hubungi lagi"
Tomi:
"Oke Mas..Masnya besok telpon ke sini aja, buat kepastian sudah apa belumnya itu lho Mas...yaa maklumlah Mas, keadaan sekarang kayaknya lagi krisis energi, jadi listriknya disko gitu"
Anak Kos:
"Oke Mas Tomi, besok saya hubungi lagi ya.. Assalamu'alaikum..."
Tomi:
"Wa'alaikum salam Mas..."

Bersambung ke Part-2

Terima Kasih "Alay"

Dah lama ga posting akhirnya saya muncul lagi... Bukan apa-apa misalnya seperti sibuk, tugas, ngelembur ataupun apa-apa lainnya. Cuma saya agak sedikit shock setalah dua buah blog saya kena banned sama Si Mbah Gugel. Alasannya saya juga belum tau. Akhirnya saya pun bertapa mencari dimana letak kesalahan blog saya (bukan kesalahan saya *ngeles). Tapi jagat pertapaan dunia maya yang penuh dengan belantara bandwidth ini saya rasa tidak mungkin untk dijangkau, ya udahlah... Saya ikhlaskan saja. Lagipula dengan ikhlas hati pun menjadi lapang, jiwa menjadi tenang, penglihatan menjadi terang dan piring pecah pun tetap krommpyangg... Beuhh... *masih agak kesal dikit. Okay, back to ikhlas... Tarik nafas dalam-dalam... Lepaskan pelan-pelan... Kembali jernihkan pikiran...

Nahh..baik... adapun Alay yang saya maksud di atas adalah sebuah kekaguman pada sebuah sistem keamanan. Guess what..?? Ada yang tau..?? Okelah kalo begono... Begini sobat semuanya. Keamanan yang saya maksud adalah keamanan akun-akun sobat di dunia maya ini, misalnya di Fesbuk, Tuitter, Prenster, email dan bahkan akun Blogger sobat.

Apa hubungan aman dengan alay..?? Nah, ini yang menarik. Banyak pemilik akun, terutama akun Fesbuk (contoh kasus yang sering terjadi belakangan lho yaaa...) yang sering kecolongan karena akunnya kena hack hingga dibanned sama Dek Mark Zuckenberg, (secara saya lebih tua dikit dari dia, makanya panggil Dek) karena dianggap melanggar TOS-nya Fesbuk. Bisa jadi karena mengikuti grup-grup klonengan yang memberikan janji-janji muluk kayak juru kampenye pemilu bahwasanya dengan mengikuti grup tersebut, bisa mendapatkan teman dalam waktu yang sangat cepat. Kemudian diarahkan mengikuti petunjuk bapak presiden grup tersebut untuk melakukan langkah tertentu yang ujung-ujungnya adalah menjerumuskan pemilik akun untuk menyerahkan passwordnya secara sukarela kepada pemilik grup klonengan tersebut...

Alhasil bocorlah akunnya dan kecewalah dengan sukarela. Saran saya, ga usah ikut grup kayak gitu hanya demi mendapatkan ribuan teman dalam sekejap, yang akhirnya cuma berujung kekecewaan yang penuh penyesalan... (ayo dangdutan...). Yang jelas itu merupakan bentuk gamblang dari phising berupa pencurian data pribadi di dunia maya. Cari teman yang alami aja, walaupun itu di dunia maya. Mungkin ini warning yang agak basi tapi tetap harus diulang-ulang karena makhluk-makhluk iseng itu selalu punya cara untuk mengembangkan kejahatannya.

Saya punya trik agak konyol tapi mudah-mudahan ampuh untuk menjaga rahasia serta keamanan sobat terutama dalam penggunaan password. Seperti yang sudah sering diperingatkan, agar tidak menggunakan informasi pribadi yang kita miliki sebagai password. Jadilah orang yang kreatif dalam mengamankan yang patut diamankan. Salah satu bentuknya dengan menggunakan password ala Alay (kali ini khusus password aja), caranya saya yakin sebagian besar sobat sudah tahu. Contoh;

53or4nG m4Lin9 t3rT4nGk4P nY4nGkuT D1 p4g4R k4r3n4 g4g4L m3l4Rik4N d1r1

Rumit tapi cukup efektif dan semoga gampang diingat... hihihi... Kira-kira sekian tips password Alay dari saya agar dapat menjadi contoh kreatifitas sobat dalam mengamankan akun tercinta milik sobat. Untuk pengembangan, silakan berkreasi dengan cara sobat sendiri. Sangat diharapkan saran dan komentnya bagi yang punya ide yang lebih ekstrim lagi. Oiya... silakan terjemahkan contoh di atas dengan baik yaaa...

NB:
Sengaja saya buat contoh tersebut dengan mem-Bold-kannya karena katanya Bold itu juga penting untuk optimasi SEO, apa iya..?? saya juga gak begitu paham tentang SEO, tapi mudah-mudahan Googlebot, Spiderbot, Transformer atau robot apalah namanya gak mual-mual meng-crawl contoh yang saya buat di atas...

Semoga ide alay ini memberikan sedikit manfaat...
Serta tidak lupa;
Terima Kasih "Alay", walaupun ku tak tahu seperti apa wujud nyatamu yang sebenarnya...

Gusur Pinky Pinky... MAU?

Miris...

Itulah yang pertama kali kurasakan ketika melihat penggusuran pedagang kaki lima di Pasar Terminal Aur Kuning
, Bukittinggi. Sebab mirisnya itu adalah penggusuran yang biasanya dilakukan oleh Satpol PP diambil alih secara dominan oleh aparat kepolisian dengan menggunakan kendaraan Anti Huru Hara berupa Water Cannon. Sesuatu tindakan yang pertama kali kulihat di sini dalam hal penertiban pedagang kaki lima yang berjualan di badan jalan karena ketiadaan tempat yang memadai untuk berjualan. Walaupun penggusuran itu hanya dilakukan tanpa menyemprotkan air dengan tekanan tinggi tapi dengan mengucurkan ke jalan dekat para pedagang berjualan, itu sudah cukup membuat mereka kelabakan karena percikan air dari moncong cannon yang cukup tinggi itu. Terlebih lagi yang membuatku cukup prihatin adalah pedagang yang sudah tua dengan tenaga yang terbatas berusaha menyelamatkan dagangannya.

Gusur Pinky Pinky... MAU?
source: lowongankerjaterbaru102.blogspot.com
Penggusuran, sepetinya itulah yang belakangan marak terjadi di sini, Bukittinggi. Sejak Satpol PP menjadi instrumen garis depan penegakan Perda yang dirancang oleh mereka, para pembuat peraturan yang diawaki oleh para anggota dewan yang terhormat yang dipilih oleh rakyat melalui pemilu agar menjadi wakil mereka yang bermartabat. Tapi sayangnya, penegakan Perda tanpa solusi yang memadai untuk memberikan akses kepada rakyat kecil dalam menjalankan usahanya secara nyaman hanya akan menjadi sebuah hiasan lembar-lembar draft peraturan yang sudah disahkan. Penegakan peraturan terhadap para pedagang kecil tersebut hanya dilakukan dengan beberapa kali peringatan, yang diakhiri dengan penggusuran. Okelah kalau itu penertiban pedagang makanan di saat bulan Ramadhan, tapi ini terjadi di saat hari pasar yaitu Rabu dan Sabtu.

Sepertinya perlu studi banding ke Batusangkar yang pada hari pasarnya yaitu hari Kamis, sebelah badan jalan dikhususkan untuk pedagang kaki lima, sebelah lagi untuk akses lalu lintas, karena itupun jalan satu jalur dengan lebar jalan yang kurang lebih sama dengan sebelah jalan ByPass Aur Kuning yang satu jalur. Ini sebuah komparasi yang menurutku adalah sebuah win-win solution agar citra Bukittinggi sebagai kota yang pernah menyandang Kota Adipura kembali terwujud. Namun semua itu tentunya harus didukung oleh itikad baik pengelolanya dengan penataan kota yang lebih elegan serta mengikutsertakan planolog handal. Terutama sekali tidak terlalu berorientasi dan tergila-gila dengan iming-iming proyek besar yang disertai dengan keuntungan besar. Tidak...

Namun, jika semuanya tetap seperti ini dan tetap stagnan dengan pola penertiban seperti yang sudah-sudah. Pendapatku, sebaiknya para petugas garda depan dieduksi untuk melakukan penertiban dengan pola personal approach yang lebih ramah dan menyejukkan hati. Bahkan bila perlu dengan warna seragam yang menunjukkan kesan tidak sangar dan menyeramkan. Maaf, warna yang kumaksud adalah warna Pink atau Merah Jambu. Warna yang berkesan penuh cinta sehingga yang digusur pun akan pindah dengan sukarela tanpa diminta dengan corong mikropon yang berbunyi bla bla bla bla... Itupun mungkin akan menjadi sebuah hiburan tersendiri di tengah pergolakan tawar-menawar harga di dalam transaksi jual beli antara penjual dan pembeli. Serta didukung oleh wakil rakyat yang membuat Perda seragam yang seperti itu.

Untuk itu, cuma satu pertanyan yang perlu dilontarkan untuk pola Gusur Pinky Pinky ini...

Tuan Manun dan "Tungkek Parambah"

Tuan Manun...

Nama sebenarnya adalah Muhammad Nur, tapi entah kenapa dan sejak kapan lebih dikenal dengan panggilan Manun. Dia seorang tua yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bertani di sawahnya dan menjadi penggarap
di sawah orang lain. Kehidupannya dari kecil -berdasarkan cerita tentang dirinya yang ku ketahui- lebih banyak dihabiskan dalam keluarga petani yang dalam hitungan tatanan sosial kala zamannya adalah orang yang penuh kesusahan. Sehingga dirinya tidak pernah mengecap bangku pendidikan.

Berperawakan kecil dan agak bungkuk, tapi siapa sangka punya tenaga yang berlebih untuk bekerja mengandalkan ototnya di sawah. Dia tidak bisa berbicara lancar karena imbas dari cacar air yang dideritanya ketika masih kecil, serta tidak semua orang bisa memahami apa yang dibicarakannya, kecuali saudara-saudara dan orang-orang terdekatnya. Aku sedikit beruntung bisa memahami apa yang diucapkannya. Sebenarnya jika melihat ukuran umur, aku seharusnya memanggil dengan sebutan kakek, tapi berdasarkan garis keturunan yang setara, kami masih sama satu kakek, jadi aku dianjurkan memanggil dengan panggilan Tuan, yang berarti kakak.

Ada sebuah cerita menarik tentang cacar air yang dideritanya ketika kecil tersebut, saat itu masih zaman penjajahan Belanda. Biasalah...Belanda melakukan semacam patroli untuk mencari orang-orang yang mereka anggap ekstrimis terhadap pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Nah...saat itulah ketika Belanda melakukan patroli rutin di sekitar kampungku, yang juga kampung Tuan Manun, sekelompok pasukan Belanda itu memasuki rumahnya, dan saat itu kaum lelaki sudah bersembunyi terlebih dahulu untuk menghindari patroli Belanda. Tinggallah Tuan Manun Kecil di rumahnya dengan keadaan tubuh yang saat itu diselimuti cacar air. Ketika Belanda memasuki rumahnya, Tuan Manun Kecil langsung tertawa melihat ada "tamu" yang datang. Sontak saja mereka langsung kabur dan lari dari rumah itu karena disambut dengan tertawa itu. Akhirnya belakangan diketahui bahwa Belanda sangat takut akan tertular cacar air, sehingga mereka langsung ngacir... Mungkin ini salah satu senjata rahasia dalam peperangan yang tidak terungkap dalam sejarah negeri tercinta ini. Yaitu; cacar air. Yang sering dibicarakan dalam sejarah adalah kehebatan bambu runcing. yang bisa mengalahkan tank Belanda. Bahkan dalam strategi perang ala Sun Tzu pun ini tidak tercantum. Hebat betul cacar air ini... menurutku ini semacam senjata biologis yang cukup mumpuni...

Oke, kita tinggalkan cacar air, back to Tuan Manun, pola hidup Tuan Manun yang sederhana cukup menjadi perhatianku ketika beliau tinggal di rumah orang tuaku untuk beberapa lama ketika aku masih sekolah di MtsN dulu. Tidak mau tidur di kasur, makan apapun yang ada, rokoknya pun tetap yang itu-itu saja; Kansas kuning yang sekarang sudah sangat langka, atau mungkin sudah tidak diproduksi lagi. Selain itu jika diberi uang, hanya menerima uang dengan gambar tertentu saja, karena beliau seorang buta aksara dan tidak pernah meminta. Tapi mengerti untuk apa dan kemana uang itu dibelanjakan. Setiap sekali dua minggu, tepatnya di hari Senin atau Kamis, mencukur kumis dan jenggotnya di tukang cukur dekat Pasar Baso, kecamatan sebelah. Sehingga ketika pulang sudah dalam keadaan klimis dan kinyis-kinyis.

Satu hal yang sangat menarik dalam kisah hidupnya, adalah saat "mairiak" padi; sebuah cara merontokkan gabah ketika panen padi. Caranya ialah merontokkan gabah dengan diinjak-injak dan diguling-gulingkan sehingga padi tersebut rontok. Cara yang sangat konvensional dan rasanya relatif, relatif karena bagi orang tertentu itu akan sangat menyakiti telapak kaki terkena tajam dan runcingnya buah padi. Namun bagiku malah geli, telapak kaki terasa digelitik tapi aku harus menahan ketawa supaya tidak dianggap gila. Antisipasinya bagi sebagian orang adalah menggunakan sepatu boot yang biasa dipakai untuk proyek. Nah..saat mairiak padi itulah ada orang lain yang ikut bersamanya. Di sela-sela mairiak padi tersebut tiba-tiba saja Tuan Manun memukul orang tersebut dengan "tungkek parambah", semacam tongkat pemukul padi yang juga digunakan untuk menopang keseimbangan badan saat menginjak padi yang diiriak. Pukulan yang membuat orang tersebut sesak nafas dan terpana karena mendarat di punggung dan mungkin dengan tenaga yang cukup besar. Orang lain yang berada di sekitarnya kaget. Akhirnya didapat keterangan bahwa orang yang dipukul tersebut pernah bercanda yang membuat Tuan Manun tersinggung. Menurutku itu adalah sebuah pembelaan diri Tuan Manun terhadap harga dirinya yang dilecehkan.

Dari sini dapat diambil suatu pelajaran bahwa ketika seseorang terlihat bodoh di mata kita, karena keterbatasan pendidikan atau mungkin tidak sekolah sama sekali, tapi masih bisa menjaga dan menjunjung tinggi harga dirinya dari sikap merendahkan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya. Namun yang sangat disayangkan saat ini adalah, banyak orang berpendidikan yang menjerumuskan harga dirinya dengan sikap dan perilaku yang merugikan orang banyak, contohnya dengan korupsi, berbicara yang tidak pantas di gedung dewan yang terhormat (apakah sekarang masih terhormat?) serta cara-cara rendah lainnya.
Pertanyaannya adalah: apakah kita termasuk orang yang menjaga harkat dan martabat serta menjunjung harga diri seperti Tuan Manun dengan "tungkek parambah" tersebut? Wallahu A'lam...

Note:
Balai Gurah, enam minggu setelah wafatnya Tuan Manun, dalam usia 81 tahun... Semoga beliau berbahagia dengan bidadari di sana, dan terlepas dari gagap gagu lidahnya yang dimilikinya ketika hidup...
Amiin....

suamiku kini tlah tiada dan penyesalanku yg terus ada

Sobat semua...
Judul postingan ini saya ambil dari catatan seorang Facebooker bernama Rina Amalina. Saya beranikan diri untuk mempublikasikan ini karena di catatan akhirnya tertulis:

"Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara,teman,kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua."

Mari kita baca dan renungi catatan yang telah beliau buat ini;

Ini adalah kisah nyata di kehidupanku
Seorang suami yg kucintai yang kini telah tiada
Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku
Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku
Suamiku adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.

Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah,tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah.
Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku,tak mengerti aku,dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.
Tapi kini aku tahu.
Semua ucapanku selama ini salah.dan hanya menjadi penyesalanku karena dia telah tiada.
Temannya mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya.
Bahwa dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya.
Dia berkata, “ setiap kali kami ajak dia makan siang,mas anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali,alasannya slalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “ aku belum melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang.lalu bagaimana aku bisa makan siang.” Saat itu tertegun,aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga,tapi suamimu adalah sosok pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”
Aku menahan air mataku karena aku tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini aku sudah kehilangan sosok yang hebat.

Teringat akan amarahku pada suamiku,aku selalu mengatakan dia slalu menyibukkan diri pada pekerjaan,dia tak pernah peduli pada anak kita. Namun itu semua salah. Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi, “ perusahaan kecil CV.Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera. Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa,kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran. Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin,sosok yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu.”
Membaca itu,benar2 baru kusadari.betapa suamiku menyayangi putraku.betapa dia mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita.

Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “ ibu capai?istirahat dulu saja”
Dengan kasar kukatakan, “ ya jelas aku capai,semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak,urus cucian,masak,ayah tahunya ya pulang datang bersih.titik.”
Sungguh,bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.

Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya.tepat setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami. Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku.
“pak kenapa cari klinik yang termurah?saya rasa bapak bisa berobat di tempat yg lebih mahal dan lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula”
Dan suamiku menjawab, “ tak usahlah terlalu mahal. Aku cukup saja aku ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas.”
Tuhan..Maafkan hamba Tuhan,hamba tak mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga ini. Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada.

Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa.
Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari.
Banggalah pada suamimu,karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya.
Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana.
Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu.
Selagi dia kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar.
Dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.

Teruntuk suamiku.
Maafkan aku sayang.
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.
Aku janji pada diriku sendiri teruntukmu.
Putramu ini akan kubesarkan seperti caramu.
Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu.
Aku bangga padamu,aku sayang padamu.

Istrimu
Rina

Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara,teman,kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

*judul beserta isi catatan ini disalin sesuai aslinya tanpa perubahan sama sekali

Top Cheer Anniversary...


Happy Birthday to TOP CHEER..
11 Maret 1998 - 11 Maret 2010...

Demikian sms yang masuk ke handphoneku beberapa menit yang lalu, sebuah ucapan selamat untuk seluruh anggota Top Cheer. Top Cheer..??? Apaan tuh..??

Ahaa... Inilah sebuah kisah indah di masa sekolahku dulu, MAN Bukittinggi 1. Sekarang sudah menjadi MAN Model Bukittinggi, sebagai sekolah yang masuk kategori diperhitungkan keberadaanya, dalam hal prestasi tentunya... Lalu Top Cheer apa..?? Hehehe... Iya iya... Baiklah... Top Cheer sebenarnya adalah sebuah perkumpulan kecil yang dibentuk dari kebersamaan beberapa orang murid di sekolahku itu, tepatnya ketika itu 8 orang temanku. Dari kebiasaan mereka berkumpul di kantin Tek Nuik yang berada di dekat aula sekolahku, maka tumbuhlah ide untuk membentuk sebuah perkumpulan kecil, semacam geng mungkin. Kelahiran Top Cheer sendiri terjadi dari sebuah spontanitas kolektif dari 8 orang temanku tersebut, gara-gara makan bakwan yang sangat enak di kantin Tek Nuik tersebut, -mungkin bakwan yang dibuat dengan penuh integritas oleh Tek Nuik & Crew-. Jadi hadirlah sebuah cletukan, bakwan yang rasanya top cer, top cer bukan tokcer, tapi top cer, akhirnya tumbuh ide spontan untuk membuat perkumpulan Top Cheer yang diawaki oleh 8 orang temanku itu.

Lalu bagaimana denganku? Adapun diriku sendiri merupakan anggota yang terakhir, direkrut karena punya nilai strategis kali ya... Hehehe..apapun alasannya, bagiku ini sebuah kebahagiaan punya komplotan untuk yang pertama kalinya. Keberadaan kami pun bukan hanya karena untuk menunjukkan eksistensi di sekolah, tapi lebih mengarah ke hal yang positif, misalnya; belajar bersama, mengolah contekan (gubrakkk...!!! -yang ini jangan ditiru gan- nanti ditimpukin bata), membantu menyelesaikan permasalahan pribadi anggota yang punya masalah (sippp..!!! -kalo yang ini boleh ditiru gan- pantas dikasih cendol, hehehe...), comblangin anggota yang lagi gedebuk love, jalan-jalan ke Badoray di Limo Kampung Sungai Puar dengan air terjun yang indah dan airnya jatuh dari atas ke bawah... .....????? (ini gak bohong), enak lho air terjunnya, bisa dipake buat olah kanuragan, misalnya membalikkan airnya biar balik lagi ke atas... wuihh... (ini belum pernah dicoba), pulang sekolah bareng, ngrecokin lauk pauk teman-teman sekolah yang kos karena jauh dari rumahnya. Apapun itu, yang jelas apa yang kami alami ketika itu adalah sebuah persahabatan, dan semoga sampai selanjutnya tetap berlanjut setelah Anniversary yang ke-13 ini.

Bagiku, keberadaan Top Cheer ini memberikan pelajaran indahnya persahabatan, bahkan lebih dari itu, yaitu sebuah persaudaraan. Siapa tau nanti besanan..Wkwkwkwkwk... Yang jelas, semua persahabatan itu indah. Namun yang menjadi pertanyaanku, kenapa lahirnya pas tanggal 11 Maret yang merupakan Hari Supersemar?

Garasiku Seluas Tiga Gedung Padepokan

Aku punya sebuah kereta kuda, dengan empat roda, dengan kusir yang bersahaja tapi berwibawa, walaupun terkadang aku yang mengendalikannya, kereta kuda itu. Kereta kuda dengan lentera, empat buah jumlahnya, dua di belakang dua di muka, yang jelas bukan di muka kuda, nanti kalah bersaing dengan kacamata kuda. Maka terjadilah kompetisi yang mengerikan antara lentera dan kacamata kuda. Kuda merasa keberatan dengan kacamata, ditambah lagi dengan lentera di kepalanya, sehingga membuat celaka bagi penumpang kereta kuda, walaupun itu hanya untukku dan keluarga. Maka semua itu harus diantisipasi dengan seksama, letakkanlah lentera di tempat yang sepantasnya, seperti yang sobat lihat di kereta kuda seperti biasanya, di depan sebelah kanan dan kiri tempat duduk kusir yang bersahaja tapi berwibawa. Walaupun terkena risiko dikentuti kuda, tetapi terima saja dengan lapang dada, karena belum pernah kulihat kuda yang mendorong kereta kuda, kecuali ada sebuah ide gila untuk membuatnya, barangkali ini adalah sebuah ide gila itu.

Selanjutnya tentang kuda, sederhana saja, kuda didatangkan dari Australia, hitam pekat berkilat lincah bergelora. Tapi itu hanya untuk sementara saja, karena kuda harus menjalani rutinitas seolah-olah kerja paksa, dalam perspektif kuda tentunya, diperkuda untuk menarik kereta kemana-mana, demikianlah kira-kira gambarannya.

Tapi yang menakjubkan adalah garasi kereta kuda yang sangat luas, luaaaaas sekali…. Jika ada pertandingan futsal bisa dimodifikasi dan disewakan sehingga menghasilkan profit yang menggila. Demikian juga jika ada turnamen bulutangkis maupun tenis. Tapi tidak untuk arena pacuan kuda, karena ini dikhususkan hanya untuk kudaku dan keretanya. Garasi seluas tiga kali gedung padepokan dan tingginya tiga kali gedung padepokan, kurasa itu wajar-wajar saja untuk kereta kudaku yang juga seharga Satu Koma Tiga Milyar ini. Dengan fitur-fitur canggih yang melengkapinya, foot step yang bertatahkan emas 18 karat, lentera yang bisa geleng-geleng mengikuti kemana arah kemudi yang diatur kusir, power window serta central door lock, alarm anti kriminal yang bisa berteriak sepuluh bahasa, bahasa yang kesepuluh adalah meringkik, bahasa kuda yang menarik kereta ini, sebagai sebuah bentuk apresiasi untuk kuda hitam pekat berkilat lincah bergelora ini atas jasa-jasanya. Apresiasi yang lebih dari hanya sekedar rumput dan sagu bermutu paling tinggi. Adapun bahasa yang kesembilan adalah siulan kusir, karena kenyamanan yang diberikan kereta kuda ini membuat kusir bersiul-siul karena nyamannya. Sehingga pantaslah kiranya ide menggunakan siulan kusir ini diimplementasikan sebagai bahasa kesembilan alarm anti kriminal di kereta kuda ini.

Berlandaskan kepada pedoman nilai nominal yang dimiliki kereta kuda ini, maka tidak salahlah kiranya jika kubuat garasi yang seluas tiga kali gedung padepokan ini, dengan tinggi yang juga tiga kali gedung padepokan tersebut. Tanpa garasi seluas itupun sebenarnya cukup jika hanya kubuat semuat kereta kudaku, dana untuk garasi bisa digunakan untuk membuat tiga gedung padepokan. Tapi sekali lagi aku ingin membuatnya dengan luas yang spektakuler itu. Aku menilai ini sebuah kepantasan bagiku, karena diriku bukan orang sembarangan, aku adalah seorang pejabat kerajaan, seorang patih yang membantu raja dalam mengurus rakyat. Jerih payah serta tetes keringatku pantas diganjar dengan dengan fasilitas yang bagiku setimpal itu, sangat pantas Sobat. Tidak mudah bagiku untuk mendapatkan jabatan yang prestisius ini, bersaing dengan kandidat lain dalam segala macam seleksi serta fit and proper test plus properti. Sedikit senggol kiri senggol kanan dengan assesoris lobi sana-sini, maka sekarang inilah aku dengan segala apa yang melekat di diriku serta menjadi fasilitasku. Kutegaskan kepadamu, ini hanya fasilitas.

Di garasi yang luasnya spektakuler ini terkadang aku melepas kudaku dari belenggu tali-temali keretanya untuk kutunggangi dengan pelana pilihan yang empuk, kentut pun bisa diredam karena saking empuknya. Berkeliling garasi bak joki professional, dikawal oleh ajudan serta staf yang menonton dari pinggir garasi serta stand by dengan air mineral untuk mengatasi haus serta suplemen impor untuk mengembalikan ion tubuh yang hilang.

Asyik…sungguh asyik menunnggangi kuda pilihan di garasi dengan luas spektakuler ini, tak ada udara panas yang kurasakan karena sejuknya berasal dari ventilasi-ventilasi yang didesain oleh ahli rancang bangunan berpengalaman dengan perhitungan yang matang sehigga menghasilkan sirkulasi udara yang lancar dan menyejukkan. Tapi entah mengapa, di tengah asyik masyukku berkuda, kurasakan geli di telapak kakiku… aneh… geli sekali sehingga menggangguku menunggang kuda di garasiku ini… geli terus menggelayuti telapak kakiku… hingga akhirnya akupun….terbangun…

Hhhh…Cuma mimpi jadi patih kerajaan… Lagi enak-enak mimpi berkuda diganggu oleh geli tak tertanggungkan gara-gara telapak kakiku disodok-sodok oleh si Miming, kucing kecilku yang tidak berbuntut sama sekali itu. Astaghfirullah, akhirnya kezalimanku di dalam mimpi sebagai patih yang egois dengan nilai kepantasan versi perspektif pribadi dalam kurungan garasi seluas tiga kali gedung padepokan itu berakhir. Si Miming, kucing kecil yang sholehah karena membangunkanku ketika azan subuh tiba. Sejenak kuberpikir, harga Royal Crown yang dipakai pejabat di Jakarta ternyata hampir setara dengan kereta kudaku, juga senilai dengan tiga bangunan gedung sekolah baru... Seperti sekolahku yang sekarang sedang dibangun...

Sekolahku Di Rawang (Part-2)

Setelah menjelajah sekolahku di Part-1, maka ini adalah kelanjutannya..

Satu hal yang tak kalah menarik ketika berada di sekolahku ini, MTsN Panampung di Rawang, tentunya adalah kisah anak muda yang katanya mulai mengenal cinta, klise memang klise sobat… kliseeeee sekali… tapi selalu menarik bagi para beginner. Di kelas Satu, aku sudah dipercaya menjadi wakil kelas untuk mengikuti MTQ antar kelas maupun antar SLTP tingkat kecamatan, dengan bekal suara yang alhamdulillah masuk nominasi untuk mengikuti MTQ hasil gemblengan Ibu Lihayati, Ibu Salmi Ghazali, Ustadz Salman Al-Farisi dan tentunya yang istimewa gemblengan ibuku yang ketika remaja juga juara MTQ. Akan tetapi untuk suatu hal, karena mungkin untuk alasan emansipasi atau bahasa kerennya Kesetaraan Gender, tentunya selain peserta putra yaitu diriku, harus ada peserta putri yang mendampingi. Maka dipilihlah seorang teman sekelas yang berinisial NS. Seorang gadis hitam manis, maniiiis sekali… apalagi kalau tersipu-sipu Ku sengaja mencantumkan inisial bukan karena dia seorang tersangka atau terdakwa –Terbukti Tidak Wangi-. Tapi lebih kepada alasan privasi.

Sekolahku Di Rawang (Part-2)
source: mtsnpanampung.wordpress.com
Nah…di beberapa MTQ itulah aku dan NS hampir selalu berdampingan sebagai juara satu kategori Putra dan Putri, atau aku sebagai juara satu dan dia juara dua dalam kategori gabungan. Entah karena keisengan siapa, mulailah berkembang isu, rumor, gosip, ghibah dan entah apa lagi namanya bahwa aku ada affair dengan NS. Aku enjoy aja dengan segala ketidak-pedulian terhadap segala desas-desus yang menimpaku, karena aku lebih mengambil sikap profesional sebagai wakil kelas maupun wakil sekolah dalam MTQ. Tetapi rupanya ada sekelompok temanku yang menyokong agar aku pedekate terhadap NS bahkan ada yang siap mendiktekan surat cinta untukku. Bodohnya, ide konyol menulis surat diktean itu ku lakukan juga. Apa responnya? Hehehe…silakan sobat perkirakan sendiri.. itulah pengalaman tentang relationship yang ku alami yang mungkin merupakan Cinta Monyet atau barangkali Cinta Lutung. Tapi aku sangat mengapresiasi teman-temanku yang memberikan support dalam bentuk teamwork untuk memprovokasiku melakukan pedekate. Nah..di saat itulah aku juga mengenal dasar-dasar teamwork walaupun cuma dalam rangka team provokator misi surat cinta dikteanku. Terimakasih teman-temanku… Wi Ar Pren Poreper.. By The Way, kapan kita reunian besar-besaran? Tidak sekedar temu kangen, sekalian bikin partai… hehehe…

Kembali ke kisah konyolku, yang cukup mengejutkanku, seorang guru muda mata Pelajaran Biologi malah ikut menjadi supporterku… hal lain yang lebih menghebohkan dan menggetarkan adalah; sebagian besar adik-adik kelasku juga ikut untuk memberikan dukungan. Tapi ajaibnya –sepengetahuanku-, cuma satu guru itu saja yang mengetahui. Sungguh sebuah konspirasi yang tak terkira kerahasiaannya, mungkin termasuk kategori Top Secret berjamaah dengan level A-1. Berjamaah karena kerahasiaannya dijamin bersama, persis perangai intel Melayu, yaitu intel yang menunjukkan kesan bahwa dia itu seorang intel, demikian yang ditulis Pak A.C. Manullang dalam bukunya yang berjudul; Menguak Tabu Intelijen. Penjelasan paragraf Tiga ini terjadi ketika aku sudah kelas Tiga.

Dari sekelumit kisah sekolahku di Rawang ini, menjadi bagian tak terlupakan dari rantai kehidupanku yang seiring bertambahnya waktu, semakin tetap dilengkapi dengan rantai-rantai segar lainnya. So, bagaimana dengan NS? Sekarang dia sudah bekerja di sebuah LSM di Jakarta. Kemudian bagaimana dengan Tu Bi Kontinyu-nya? Wallahua’lam Bis Shawaab…

Bakwan Of Integrity

Ketika melihat sebuah kol putih, bawang merah, bawang putih, terigu, garam tergeletak tak berdaya di dapur, maka sebaiknya dan tidak ada salahnya jika aku manfaatkan semua benda-benda yang ada itu untuk membuat camilan. Daripada lidah hambar karena tidak mengunyah apa-apa. Tampaknya perlakuan yang lebih tepat untuk bahan-bahan yang sederhana itu adalah dibakwani, maksudnya dibuat bakwan. Walaupun tanpa wortel, tapi cukuplah memanfaatkan apa yang ada menjadi sesuatu yang amat sederhana tapi punya efek depan, yaitu mengenyangkan. Lha…perut ada di depan tho? Kalau setelah memakannya terjadi efek samping, maka periksakan pencernaan saudara-saudara ke pihak yang berkompeten dalam urusan membereskan pencernaan.

Bakwan Of Integrity
source: sarahquin.blogspot.com
Selanjutnya adalah mengolah semua bahan sederhana tersebut sebagaimana mestinya dalam prosedur membuat bakwan. Iris dengan pisau tajam dan ganyang sampai halus dengan batu penggilingan yang lebih dikenal dengan ulekan. Batu ulekan di tempatku hanya sebuah batu bulat hasil cetakan alam yang terbentuk oleh gerusan air sungai yang mengalir terus menerus dan mengelus bebatuan di dalamnya sehingga menjadi bentuk yang seperti demikian itu. Mungkin bagi orang yang tidak mengetahui karena keawamannya, batu seperti itu tidak lebih hanya dapat dijadikan sebagai pengganjal pintu yang kusennya miring karena kesalahan perhitungan tata konstruksi bangunan. Miring salah satu, miring pula semuanya. Berbeda dengan batu ulekan yang kutemukan di Jogja maupun di pulau Jawa pada umumnya yang sengaja dibentuk menyerupai pentungan aneh jika dilihat dari dekat dan serupa bumerang buntung jika dilihat dari jauh.

Next, bahan lainnya dicampurkan jadi satu dengan bahan sebelumnya yang sudah diganyang sampai ke akar-akarnya tersebut -tapi jangan disamakan dengan ganyang ideologi terlarang, karena ini adalah ganyang dalam arti yang sesungguhnya-, ditambah sedikit air lalu diaduk rata dan setelah rata, saatnya untuk eksekusi semua bahan tersebut. Perangkat eksekusi cuma sebuah wajan kecil untuk kapasitas tiga bakwan. Setelah warming up dengan minyak goreng, maka adonan bahan tadi dicemplungkan ke dalam minyak panas dengan takaran tertentu untuk mencapai ukuran yang proporsional walaupun dalam bentuk yang bebas berekspresi (tidak beraturan-red). Setelah proses selesai, maka lihatlah… bakwan yang yang dibuat dengan kesederhanaan, niat yang tulus serta penuh integritas ini dapat disajikan dengan ditemani saus tomat dan saus sambal (itupun kalau ada).

Beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam membuat karya apapun walaupun hanya setumpuk bakwan yang sederhana dan penuh integritas ini adalah komposisi bahan serta proporsionalitas yang yang harus diukur dengan kadar yang cermat sehingga menjadi karya yang paripurna. Komposisi yang dimaksud adalah komposisi lahir dan batin, komposisi lahir yang kumaksud adalah bahan-bahan yang sudah disebutkan di atas tadi. Adapun komposisi batin adalah berupa niat, do’a dengan harapan apa yang dihasilkan menjadi sesuatu yang bemanfaat, ketulusan hati serta integritas yang tinggi agar tercapai sebuah tingkat kepuasan tersendiri bagi penikmatnya. Dan bagaimana akhirnya? Selamat menikmati hidangan sederhana ini; Bakwan of Integrity.

Sekolahku Di Rawang (Part-1)

Tadi pagi setelah mengantar bapakku dengan kuda tua kami di tempat kerja beliau di kampungnya, aku sengaja mengambil jalan pulang memutar melewati sekolahku dulu, MTsN Panampung di Rawang, Panampung. Sekolah yang ku masuki tidak pada masa pendaftaran, karena aku sendiri merupakan pindahan dari pesantren yang cuma sempat ku tinggali selama dua bulan, akibat tidak betah tinggal di pesantren karena tidak bisa “malala” kemana-mana.

Sekolahku Di Rawang (Part-1)
source: mtsnpanampuang.blogspot.com
Disekolah inilah aku mulai merasakan penggemblengan yang sesungguhnya dari para guru yang bersahaja. Ibu Marlis yang memberikan pelajaran Al-Qur`an Hadits, setiap murid diharuskan menghafal beberapa Ayat maupun Hadits yang akan dibahas di hari berikutnya. Jika tidak hafal, disetrap sambil mengulang hafalan sampai benar-benar hafal sob… atau paling tidak dicubit di pangkal lengan. Maklumlah, namanya baru tamat SD masih kebawa-bawa tabiat di masa SD, suka main. Tapi ambil positifnya, anggap saja itu sebuah jalan pintas untuk menjadi selebriti, selebriti setrapan tentunya…hehe… Kemudian Pak As’ad Martha, guru Bahasa Inggris yang menurutku benar-benar berjiwa muda serta humoris, humoris habis pula. Jarang marah tapi sering membuat kami bersimbah air mata, bersimbah air mata karena kebanyakan tertawa dengan segala humor beliau di tengah materi pelajaran yang diberikan.

Ada lagi Pak Irwanto, guru yang memiliki sepupu yang menjadi wakil rakyat di pusat ini, serta ditopang badan berkategori subur tapi sangat lincah bermain badminton jago ngebut dengan Vespa-nya ini adalah seorang guru Matematika. Matematika yang sekarang cukup ku pahami dengan Makin Tekun Makin Tidak Karuan karena saking rumitnya, rumit bagiku. Selanjutnya Ibu Radius, guru Bahasa Indonesia bagi anak bangsa ini yang sudah banyak menggunakan Bahasa Indonesia yang melenceng dari langgam yang seharusnya, barangkali termasuk tata bahasa blog ini. Terutama bahasa para wakil rakyat yang sudah dihinggapi bibit-bibit bangsatisme sehingga terlihat dan terdengar tidak sopan untuk dipertunjukkan di hadapan rakyat yang diwakilinya. Tapi perkembangan bahasa sekarang juga punya nilai lebih untuk benda-benda yang marketable, misalnya; Terdakwa, dimaknai dengan Terbukti Tidak Wangi sebagai bahasa iklan untuk produk deodoran, ada-ada sajha… Kembali ke Ibu Radius, di tengah pelajaran tata bahasa yang beliau berikan, terselip kata-kata motivasi serta nasihat berharga bagi kami, murid-muridnya yang terkadang tidak tahu diri ini. Maafkan kami guru…

Melalui sekolah ini pula aku mengenal istilah penyunatan, karena adanya sedikit penyimpangan keuangan berupa penyunatan beasiswa beberapa murid yang berprestasi, beasiswa yang seharusnya diberikan penuh kepada mereka malah “dikuduang” sepuluh persen walaupun akhirnya dkembalikan, pengudungan yang kemudian aku kenal dengan istilah seksi yang bernama korupsi, walaupun saat itu kecil-kecilan. Selain itu aku kemudian paham maksud mark up yang sesungguhnya. Ceritanya ketika kelas Tiga saat belajar Fisika bersama guru yang aku lupa namanya karena beliau adalah guru yang diperbantukan dari sekolah lain. Waktu itu adalah pengenalan tentang komponen elektronika, masing-masing kami saat itu dipinjamkan resistor, karena pembahasan tentang tentang resistor saat itu agak panjang karena membahas warna yang terdapat di resistor. Warna tersebut mempunyai arti nilai hambatan listrik yang diperhitungkankan dalam satuan Ohm. Nah..saat pembagian resistor itulah beliau mewanti-wanti agar resistor yang sangat imut itu jangan sampai hilang karena harganya tiga ratus rupiah. Sobat...yang ku tahu saat itu harga resistor adalah dua puluh lima rupiah. Di saat libur panjang kenaikan kelas ke kelas Tiga aku sudah lebih dahulu ambil star untuk mempelajari elektronika selama sebulan penuh dengan menantu pamanku yang pulang dari Jakarta serta merupakan seorang guru Fisika di sana, gara-gara tertarik dengan pola kerja lampu Running Led yang dipakai ketika pernikahan saudara sepupuku, maka saat itu pulalah aku tahu harga beberapa komponen elektronika termasuk resistor yang sesungguhnya berharga dua puluh lima rupiah.

Tampaknya cukup ini dulu pengalamanku tentang sekolahku di Rawang, Insya Allah nanti akan kulanjutkan di Part-2

Bangsatisme

Beberapa hari lalu di awal tahun 2010 ini, Lembaga Sensor Film melarang penayangan sebuah film berjudul “Bidadari Jakarta”, sebuah film yang menceritakan kehidupan keseharian anak jalanan dan perempuan ibukota. Alasan pelarangan ini adalah karena dalam film ini banyak mengandung kata-kata yang kasar dan tidak pantas untuk dipertontonkan serta diperdengarkan di depan publik. Selang beberapa hari kemudian, rakyat di negeri tercinta ini dipertontonkan serta diperdengarkan dengan ucapan kasar; “bang***” dari mulut seseorang yang “katanya” wakil rakyat yang terhormat. Sebuah realita yang menyedihkan, wakil rakyat dari anggota dewan yang seharusnya menjadi penyalur aspirasi rakyat yang diwakilinya mengumbar nafsu lidah tajam. Tontonan yang membuat anak kecil yang menyaksikan akan merekam ucapan itu di alam bawah sadarnya serta akan membawanya hingga dewasa, kemudian akan menjadi bagian dari kebiasaannya sebagai orang dewasa.
Pertanyaan yang perlu dikemukakan adalah; apakah film yang dilarang tersebut perlu dicabut pelarangannya? Supaya lebih adil, karena apa yang sudah dipertontonkan oleh sang wakil rakyat tersebut menafikan pelarangan tersebut. Supaya gambaran realita yang difilmkan betemu dengan realita dari gedung dewan tempat berteduh para wakil rakyat tersebut, termasuk sang wakil rakyat berlidah tajam tersebut. Sehingga menjadi realita yang sesungguhnya.

Yang sangat disayangkan, rekan fraksi dari sang wakil rakyat tersebut menganggap wajar terhadap apa yang sudah dilontarkan dari mulutnya. Entah mungkin karena motivasi solidaritas rekan sesama fraksi atau entah apa.. entahlah… Di sisi lain, apa yang sudah terlontar dari mulut sang wakil rakyat --yang dulu ku kenal sebagai raja minyak, entah minyak apa? Mungkin minyak uang pelicin-- tersebut, di kemudian hari bisa menjadi pembenaran bagi siapapun yang juga mengeluarkan kata-kata yang sebangsa dengan ucapan sang wakil rakyat yang sekali lagi; “katanya” terhormat itu. Sebab contoh sudah ada. Pembenaran tersebut bisa membungkam orang-orang yang masih ingin kelemah-lembutan tetap ada di dalam kehidupan di negeri yang dikenal sebagai negeri orang-orang yang ramah ini.

Satu hal yang perlu dicermati, jika perilaku dan kata-kata tersebut kembali beredar di tengah publik dan kemudian menjadi sesuatu yang membudaya, maka bukan sebuah hal yang mustahil akan tumbuh sebuah ideologi baru yang berlandaskan kekasaran lidah yang saya sebut saja ideologi “Bangsatisme”. Bangsatisme yang diambil dari ucapan; “bang***” yang keluar dari mulut sang wakil rakyat cukup menjadi representasi dari ideologi ini. Pertanyaannya adalah; apakah kita ingin ini menjadi ideologi baru diantara banyaknya ideologi yang merupakan ideologi buangan dari bangsa lain? Silakan tentukan jawabannya.

Jadi kembali berdasarkan ke pertanyaan awal, manakah yang patut untuk dilarang? Film yang saya sebut di atas atau bibit-bibit ideologi yang berlandaskan kekasaran lidah tersebut? Silakan tentukan lagi jawabannya.
.