Tuan Manun dan "Tungkek Parambah"

Tuan Manun...

Nama sebenarnya adalah Muhammad Nur, tapi entah kenapa dan sejak kapan lebih dikenal dengan panggilan Manun. Dia seorang tua yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bertani di sawahnya dan menjadi penggarap
di sawah orang lain. Kehidupannya dari kecil -berdasarkan cerita tentang dirinya yang ku ketahui- lebih banyak dihabiskan dalam keluarga petani yang dalam hitungan tatanan sosial kala zamannya adalah orang yang penuh kesusahan. Sehingga dirinya tidak pernah mengecap bangku pendidikan.



Berperawakan kecil dan agak bungkuk, tapi siapa sangka punya tenaga yang berlebih untuk bekerja mengandalkan ototnya di sawah. Dia tidak bisa berbicara lancar karena imbas dari cacar air yang dideritanya ketika masih kecil, serta tidak semua orang bisa memahami apa yang dibicarakannya, kecuali saudara-saudara dan orang-orang terdekatnya. Aku sedikit beruntung bisa memahami apa yang diucapkannya. Sebenarnya jika melihat ukuran umur, aku seharusnya memanggil dengan sebutan kakek, tapi berdasarkan garis keturunan yang setara, kami masih sama satu kakek, jadi aku dianjurkan memanggil dengan panggilan Tuan, yang berarti kakak.

Ada sebuah cerita menarik tentang cacar air yang dideritanya ketika kecil tersebut, saat itu masih zaman penjajahan Belanda. Biasalah...Belanda melakukan semacam patroli untuk mencari orang-orang yang mereka anggap ekstrimis terhadap pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Nah...saat itulah ketika Belanda melakukan patroli rutin di sekitar kampungku, yang juga kampung Tuan Manun, sekelompok pasukan Belanda itu memasuki rumahnya, dan saat itu kaum lelaki sudah bersembunyi terlebih dahulu untuk menghindari patroli Belanda. Tinggallah Tuan Manun Kecil di rumahnya dengan keadaan tubuh yang saat itu diselimuti cacar air. Ketika Belanda memasuki rumahnya, Tuan Manun Kecil langsung tertawa melihat ada "tamu" yang datang. Sontak saja mereka langsung kabur dan lari dari rumah itu karena disambut dengan tertawa itu. Akhirnya belakangan diketahui bahwa Belanda sangat takut akan tertular cacar air, sehingga mereka langsung ngacir... Mungkin ini salah satu senjata rahasia dalam peperangan yang tidak terungkap dalam sejarah negeri tercinta ini. Yaitu; cacar air. Yang sering dibicarakan dalam sejarah adalah kehebatan bambu runcing. yang bisa mengalahkan tank Belanda. Bahkan dalam strategi perang ala Sun Tzu pun ini tidak tercantum. Hebat betul cacar air ini... menurutku ini semacam senjata biologis yang cukup mumpuni...

Oke, kita tinggalkan cacar air, back to Tuan Manun, pola hidup Tuan Manun yang sederhana cukup menjadi perhatianku ketika beliau tinggal di rumah orang tuaku untuk beberapa lama ketika aku masih sekolah di MtsN dulu. Tidak mau tidur di kasur, makan apapun yang ada, rokoknya pun tetap yang itu-itu saja; Kansas kuning yang sekarang sudah sangat langka, atau mungkin sudah tidak diproduksi lagi. Selain itu jika diberi uang, hanya menerima uang dengan gambar tertentu saja, karena beliau seorang buta aksara dan tidak pernah meminta. Tapi mengerti untuk apa dan kemana uang itu dibelanjakan. Setiap sekali dua minggu, tepatnya di hari Senin atau Kamis, mencukur kumis dan jenggotnya di tukang cukur dekat Pasar Baso, kecamatan sebelah. Sehingga ketika pulang sudah dalam keadaan klimis dan kinyis-kinyis.

Satu hal yang sangat menarik dalam kisah hidupnya, adalah saat "mairiak" padi; sebuah cara merontokkan gabah ketika panen padi. Caranya ialah merontokkan gabah dengan diinjak-injak dan diguling-gulingkan sehingga padi tersebut rontok. Cara yang sangat konvensional dan rasanya relatif, relatif karena bagi orang tertentu itu akan sangat menyakiti telapak kaki terkena tajam dan runcingnya buah padi. Namun bagiku malah geli, telapak kaki terasa digelitik tapi aku harus menahan ketawa supaya tidak dianggap gila. Antisipasinya bagi sebagian orang adalah menggunakan sepatu boot yang biasa dipakai untuk proyek. Nah..saat mairiak padi itulah ada orang lain yang ikut bersamanya. Di sela-sela mairiak padi tersebut tiba-tiba saja Tuan Manun memukul orang tersebut dengan "tungkek parambah", semacam tongkat pemukul padi yang juga digunakan untuk menopang keseimbangan badan saat menginjak padi yang diiriak. Pukulan yang membuat orang tersebut sesak nafas dan terpana karena mendarat di punggung dan mungkin dengan tenaga yang cukup besar. Orang lain yang berada di sekitarnya kaget. Akhirnya didapat keterangan bahwa orang yang dipukul tersebut pernah bercanda yang membuat Tuan Manun tersinggung. Menurutku itu adalah sebuah pembelaan diri Tuan Manun terhadap harga dirinya yang dilecehkan.

Dari sini dapat diambil suatu pelajaran bahwa ketika seseorang terlihat bodoh di mata kita, karena keterbatasan pendidikan atau mungkin tidak sekolah sama sekali, tapi masih bisa menjaga dan menjunjung tinggi harga dirinya dari sikap merendahkan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya. Namun yang sangat disayangkan saat ini adalah, banyak orang berpendidikan yang menjerumuskan harga dirinya dengan sikap dan perilaku yang merugikan orang banyak, contohnya dengan korupsi, berbicara yang tidak pantas di gedung dewan yang terhormat (apakah sekarang masih terhormat?) serta cara-cara rendah lainnya.
Pertanyaannya adalah: apakah kita termasuk orang yang menjaga harkat dan martabat serta menjunjung harga diri seperti Tuan Manun dengan "tungkek parambah" tersebut? Wallahu A'lam...

Note:
Balai Gurah, enam minggu setelah wafatnya Tuan Manun, dalam usia 81 tahun... Semoga beliau berbahagia dengan bidadari di sana, dan terlepas dari gagap gagu lidahnya yang dimilikinya ketika hidup...
Amiin....
Pesan Tiket Online Murah
PayTren E-Money - Aplikasi Pembayaran Dari Smartphone Anda
.