Gusur Pinky Pinky... MAU?

Miris...

Itulah yang pertama kali kurasakan ketika melihat penggusuran pedagang kaki lima di Pasar Terminal Aur Kuning
, Bukittinggi. Sebab mirisnya itu adalah penggusuran yang biasanya dilakukan oleh Satpol PP diambil alih secara dominan oleh aparat kepolisian dengan menggunakan kendaraan Anti Huru Hara berupa Water Cannon. Sesuatu tindakan yang pertama kali kulihat di sini dalam hal penertiban pedagang kaki lima yang berjualan di badan jalan karena ketiadaan tempat yang memadai untuk berjualan. Walaupun penggusuran itu hanya dilakukan tanpa menyemprotkan air dengan tekanan tinggi tapi dengan mengucurkan ke jalan dekat para pedagang berjualan, itu sudah cukup membuat mereka kelabakan karena percikan air dari moncong cannon yang cukup tinggi itu. Terlebih lagi yang membuatku cukup prihatin adalah pedagang yang sudah tua dengan tenaga yang terbatas berusaha menyelamatkan dagangannya.

Gusur Pinky Pinky... MAU?
source: lowongankerjaterbaru102.blogspot.com
Penggusuran, sepetinya itulah yang belakangan marak terjadi di sini, Bukittinggi. Sejak Satpol PP menjadi instrumen garis depan penegakan Perda yang dirancang oleh mereka, para pembuat peraturan yang diawaki oleh para anggota dewan yang terhormat yang dipilih oleh rakyat melalui pemilu agar menjadi wakil mereka yang bermartabat. Tapi sayangnya, penegakan Perda tanpa solusi yang memadai untuk memberikan akses kepada rakyat kecil dalam menjalankan usahanya secara nyaman hanya akan menjadi sebuah hiasan lembar-lembar draft peraturan yang sudah disahkan. Penegakan peraturan terhadap para pedagang kecil tersebut hanya dilakukan dengan beberapa kali peringatan, yang diakhiri dengan penggusuran. Okelah kalau itu penertiban pedagang makanan di saat bulan Ramadhan, tapi ini terjadi di saat hari pasar yaitu Rabu dan Sabtu.

Sepertinya perlu studi banding ke Batusangkar yang pada hari pasarnya yaitu hari Kamis, sebelah badan jalan dikhususkan untuk pedagang kaki lima, sebelah lagi untuk akses lalu lintas, karena itupun jalan satu jalur dengan lebar jalan yang kurang lebih sama dengan sebelah jalan ByPass Aur Kuning yang satu jalur. Ini sebuah komparasi yang menurutku adalah sebuah win-win solution agar citra Bukittinggi sebagai kota yang pernah menyandang Kota Adipura kembali terwujud. Namun semua itu tentunya harus didukung oleh itikad baik pengelolanya dengan penataan kota yang lebih elegan serta mengikutsertakan planolog handal. Terutama sekali tidak terlalu berorientasi dan tergila-gila dengan iming-iming proyek besar yang disertai dengan keuntungan besar. Tidak...

Namun, jika semuanya tetap seperti ini dan tetap stagnan dengan pola penertiban seperti yang sudah-sudah. Pendapatku, sebaiknya para petugas garda depan dieduksi untuk melakukan penertiban dengan pola personal approach yang lebih ramah dan menyejukkan hati. Bahkan bila perlu dengan warna seragam yang menunjukkan kesan tidak sangar dan menyeramkan. Maaf, warna yang kumaksud adalah warna Pink atau Merah Jambu. Warna yang berkesan penuh cinta sehingga yang digusur pun akan pindah dengan sukarela tanpa diminta dengan corong mikropon yang berbunyi bla bla bla bla... Itupun mungkin akan menjadi sebuah hiburan tersendiri di tengah pergolakan tawar-menawar harga di dalam transaksi jual beli antara penjual dan pembeli. Serta didukung oleh wakil rakyat yang membuat Perda seragam yang seperti itu.

Untuk itu, cuma satu pertanyan yang perlu dilontarkan untuk pola Gusur Pinky Pinky ini...

Tuan Manun dan "Tungkek Parambah"

Tuan Manun...

Nama sebenarnya adalah Muhammad Nur, tapi entah kenapa dan sejak kapan lebih dikenal dengan panggilan Manun. Dia seorang tua yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bertani di sawahnya dan menjadi penggarap
di sawah orang lain. Kehidupannya dari kecil -berdasarkan cerita tentang dirinya yang ku ketahui- lebih banyak dihabiskan dalam keluarga petani yang dalam hitungan tatanan sosial kala zamannya adalah orang yang penuh kesusahan. Sehingga dirinya tidak pernah mengecap bangku pendidikan.

Berperawakan kecil dan agak bungkuk, tapi siapa sangka punya tenaga yang berlebih untuk bekerja mengandalkan ototnya di sawah. Dia tidak bisa berbicara lancar karena imbas dari cacar air yang dideritanya ketika masih kecil, serta tidak semua orang bisa memahami apa yang dibicarakannya, kecuali saudara-saudara dan orang-orang terdekatnya. Aku sedikit beruntung bisa memahami apa yang diucapkannya. Sebenarnya jika melihat ukuran umur, aku seharusnya memanggil dengan sebutan kakek, tapi berdasarkan garis keturunan yang setara, kami masih sama satu kakek, jadi aku dianjurkan memanggil dengan panggilan Tuan, yang berarti kakak.

Ada sebuah cerita menarik tentang cacar air yang dideritanya ketika kecil tersebut, saat itu masih zaman penjajahan Belanda. Biasalah...Belanda melakukan semacam patroli untuk mencari orang-orang yang mereka anggap ekstrimis terhadap pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Nah...saat itulah ketika Belanda melakukan patroli rutin di sekitar kampungku, yang juga kampung Tuan Manun, sekelompok pasukan Belanda itu memasuki rumahnya, dan saat itu kaum lelaki sudah bersembunyi terlebih dahulu untuk menghindari patroli Belanda. Tinggallah Tuan Manun Kecil di rumahnya dengan keadaan tubuh yang saat itu diselimuti cacar air. Ketika Belanda memasuki rumahnya, Tuan Manun Kecil langsung tertawa melihat ada "tamu" yang datang. Sontak saja mereka langsung kabur dan lari dari rumah itu karena disambut dengan tertawa itu. Akhirnya belakangan diketahui bahwa Belanda sangat takut akan tertular cacar air, sehingga mereka langsung ngacir... Mungkin ini salah satu senjata rahasia dalam peperangan yang tidak terungkap dalam sejarah negeri tercinta ini. Yaitu; cacar air. Yang sering dibicarakan dalam sejarah adalah kehebatan bambu runcing. yang bisa mengalahkan tank Belanda. Bahkan dalam strategi perang ala Sun Tzu pun ini tidak tercantum. Hebat betul cacar air ini... menurutku ini semacam senjata biologis yang cukup mumpuni...

Oke, kita tinggalkan cacar air, back to Tuan Manun, pola hidup Tuan Manun yang sederhana cukup menjadi perhatianku ketika beliau tinggal di rumah orang tuaku untuk beberapa lama ketika aku masih sekolah di MtsN dulu. Tidak mau tidur di kasur, makan apapun yang ada, rokoknya pun tetap yang itu-itu saja; Kansas kuning yang sekarang sudah sangat langka, atau mungkin sudah tidak diproduksi lagi. Selain itu jika diberi uang, hanya menerima uang dengan gambar tertentu saja, karena beliau seorang buta aksara dan tidak pernah meminta. Tapi mengerti untuk apa dan kemana uang itu dibelanjakan. Setiap sekali dua minggu, tepatnya di hari Senin atau Kamis, mencukur kumis dan jenggotnya di tukang cukur dekat Pasar Baso, kecamatan sebelah. Sehingga ketika pulang sudah dalam keadaan klimis dan kinyis-kinyis.

Satu hal yang sangat menarik dalam kisah hidupnya, adalah saat "mairiak" padi; sebuah cara merontokkan gabah ketika panen padi. Caranya ialah merontokkan gabah dengan diinjak-injak dan diguling-gulingkan sehingga padi tersebut rontok. Cara yang sangat konvensional dan rasanya relatif, relatif karena bagi orang tertentu itu akan sangat menyakiti telapak kaki terkena tajam dan runcingnya buah padi. Namun bagiku malah geli, telapak kaki terasa digelitik tapi aku harus menahan ketawa supaya tidak dianggap gila. Antisipasinya bagi sebagian orang adalah menggunakan sepatu boot yang biasa dipakai untuk proyek. Nah..saat mairiak padi itulah ada orang lain yang ikut bersamanya. Di sela-sela mairiak padi tersebut tiba-tiba saja Tuan Manun memukul orang tersebut dengan "tungkek parambah", semacam tongkat pemukul padi yang juga digunakan untuk menopang keseimbangan badan saat menginjak padi yang diiriak. Pukulan yang membuat orang tersebut sesak nafas dan terpana karena mendarat di punggung dan mungkin dengan tenaga yang cukup besar. Orang lain yang berada di sekitarnya kaget. Akhirnya didapat keterangan bahwa orang yang dipukul tersebut pernah bercanda yang membuat Tuan Manun tersinggung. Menurutku itu adalah sebuah pembelaan diri Tuan Manun terhadap harga dirinya yang dilecehkan.

Dari sini dapat diambil suatu pelajaran bahwa ketika seseorang terlihat bodoh di mata kita, karena keterbatasan pendidikan atau mungkin tidak sekolah sama sekali, tapi masih bisa menjaga dan menjunjung tinggi harga dirinya dari sikap merendahkan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya. Namun yang sangat disayangkan saat ini adalah, banyak orang berpendidikan yang menjerumuskan harga dirinya dengan sikap dan perilaku yang merugikan orang banyak, contohnya dengan korupsi, berbicara yang tidak pantas di gedung dewan yang terhormat (apakah sekarang masih terhormat?) serta cara-cara rendah lainnya.
Pertanyaannya adalah: apakah kita termasuk orang yang menjaga harkat dan martabat serta menjunjung harga diri seperti Tuan Manun dengan "tungkek parambah" tersebut? Wallahu A'lam...

Note:
Balai Gurah, enam minggu setelah wafatnya Tuan Manun, dalam usia 81 tahun... Semoga beliau berbahagia dengan bidadari di sana, dan terlepas dari gagap gagu lidahnya yang dimilikinya ketika hidup...
Amiin....

suamiku kini tlah tiada dan penyesalanku yg terus ada

Sobat semua...
Judul postingan ini saya ambil dari catatan seorang Facebooker bernama Rina Amalina. Saya beranikan diri untuk mempublikasikan ini karena di catatan akhirnya tertulis:

"Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara,teman,kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua."

Mari kita baca dan renungi catatan yang telah beliau buat ini;

Ini adalah kisah nyata di kehidupanku
Seorang suami yg kucintai yang kini telah tiada
Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku
Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku
Suamiku adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.

Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah,tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah.
Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku,tak mengerti aku,dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.
Tapi kini aku tahu.
Semua ucapanku selama ini salah.dan hanya menjadi penyesalanku karena dia telah tiada.
Temannya mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya.
Bahwa dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya.
Dia berkata, “ setiap kali kami ajak dia makan siang,mas anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali,alasannya slalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “ aku belum melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang.lalu bagaimana aku bisa makan siang.” Saat itu tertegun,aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga,tapi suamimu adalah sosok pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”
Aku menahan air mataku karena aku tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini aku sudah kehilangan sosok yang hebat.

Teringat akan amarahku pada suamiku,aku selalu mengatakan dia slalu menyibukkan diri pada pekerjaan,dia tak pernah peduli pada anak kita. Namun itu semua salah. Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi, “ perusahaan kecil CV.Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera. Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa,kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran. Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin,sosok yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu.”
Membaca itu,benar2 baru kusadari.betapa suamiku menyayangi putraku.betapa dia mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita.

Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “ ibu capai?istirahat dulu saja”
Dengan kasar kukatakan, “ ya jelas aku capai,semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak,urus cucian,masak,ayah tahunya ya pulang datang bersih.titik.”
Sungguh,bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.

Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya.tepat setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami. Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku.
“pak kenapa cari klinik yang termurah?saya rasa bapak bisa berobat di tempat yg lebih mahal dan lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula”
Dan suamiku menjawab, “ tak usahlah terlalu mahal. Aku cukup saja aku ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas.”
Tuhan..Maafkan hamba Tuhan,hamba tak mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga ini. Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada.

Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa.
Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari.
Banggalah pada suamimu,karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya.
Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana.
Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu.
Selagi dia kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar.
Dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.

Teruntuk suamiku.
Maafkan aku sayang.
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.
Aku janji pada diriku sendiri teruntukmu.
Putramu ini akan kubesarkan seperti caramu.
Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu.
Aku bangga padamu,aku sayang padamu.

Istrimu
Rina

Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara,teman,kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

*judul beserta isi catatan ini disalin sesuai aslinya tanpa perubahan sama sekali
.