Garasiku Seluas Tiga Gedung Padepokan

Aku punya sebuah kereta kuda, dengan empat roda, dengan kusir yang bersahaja tapi berwibawa, walaupun terkadang aku yang mengendalikannya, kereta kuda itu. Kereta kuda dengan lentera, empat buah jumlahnya, dua di belakang dua di muka, yang jelas bukan di muka kuda, nanti kalah bersaing dengan kacamata kuda. Maka terjadilah kompetisi yang mengerikan antara lentera dan kacamata kuda. Kuda merasa keberatan dengan kacamata, ditambah lagi dengan lentera di kepalanya, sehingga membuat celaka bagi penumpang kereta kuda, walaupun itu hanya untukku dan keluarga. Maka semua itu harus diantisipasi dengan seksama, letakkanlah lentera di tempat yang sepantasnya, seperti yang sobat lihat di kereta kuda seperti biasanya, di depan sebelah kanan dan kiri tempat duduk kusir yang bersahaja tapi berwibawa. Walaupun terkena risiko dikentuti kuda, tetapi terima saja dengan lapang dada, karena belum pernah kulihat kuda yang mendorong kereta kuda, kecuali ada sebuah ide gila untuk membuatnya, barangkali ini adalah sebuah ide gila itu.

Selanjutnya tentang kuda, sederhana saja, kuda didatangkan dari Australia, hitam pekat berkilat lincah bergelora. Tapi itu hanya untuk sementara saja, karena kuda harus menjalani rutinitas seolah-olah kerja paksa, dalam perspektif kuda tentunya, diperkuda untuk menarik kereta kemana-mana, demikianlah kira-kira gambarannya.

Tapi yang menakjubkan adalah garasi kereta kuda yang sangat luas, luaaaaas sekali…. Jika ada pertandingan futsal bisa dimodifikasi dan disewakan sehingga menghasilkan profit yang menggila. Demikian juga jika ada turnamen bulutangkis maupun tenis. Tapi tidak untuk arena pacuan kuda, karena ini dikhususkan hanya untuk kudaku dan keretanya. Garasi seluas tiga kali gedung padepokan dan tingginya tiga kali gedung padepokan, kurasa itu wajar-wajar saja untuk kereta kudaku yang juga seharga Satu Koma Tiga Milyar ini. Dengan fitur-fitur canggih yang melengkapinya, foot step yang bertatahkan emas 18 karat, lentera yang bisa geleng-geleng mengikuti kemana arah kemudi yang diatur kusir, power window serta central door lock, alarm anti kriminal yang bisa berteriak sepuluh bahasa, bahasa yang kesepuluh adalah meringkik, bahasa kuda yang menarik kereta ini, sebagai sebuah bentuk apresiasi untuk kuda hitam pekat berkilat lincah bergelora ini atas jasa-jasanya. Apresiasi yang lebih dari hanya sekedar rumput dan sagu bermutu paling tinggi. Adapun bahasa yang kesembilan adalah siulan kusir, karena kenyamanan yang diberikan kereta kuda ini membuat kusir bersiul-siul karena nyamannya. Sehingga pantaslah kiranya ide menggunakan siulan kusir ini diimplementasikan sebagai bahasa kesembilan alarm anti kriminal di kereta kuda ini.

Berlandaskan kepada pedoman nilai nominal yang dimiliki kereta kuda ini, maka tidak salahlah kiranya jika kubuat garasi yang seluas tiga kali gedung padepokan ini, dengan tinggi yang juga tiga kali gedung padepokan tersebut. Tanpa garasi seluas itupun sebenarnya cukup jika hanya kubuat semuat kereta kudaku, dana untuk garasi bisa digunakan untuk membuat tiga gedung padepokan. Tapi sekali lagi aku ingin membuatnya dengan luas yang spektakuler itu. Aku menilai ini sebuah kepantasan bagiku, karena diriku bukan orang sembarangan, aku adalah seorang pejabat kerajaan, seorang patih yang membantu raja dalam mengurus rakyat. Jerih payah serta tetes keringatku pantas diganjar dengan dengan fasilitas yang bagiku setimpal itu, sangat pantas Sobat. Tidak mudah bagiku untuk mendapatkan jabatan yang prestisius ini, bersaing dengan kandidat lain dalam segala macam seleksi serta fit and proper test plus properti. Sedikit senggol kiri senggol kanan dengan assesoris lobi sana-sini, maka sekarang inilah aku dengan segala apa yang melekat di diriku serta menjadi fasilitasku. Kutegaskan kepadamu, ini hanya fasilitas.

Di garasi yang luasnya spektakuler ini terkadang aku melepas kudaku dari belenggu tali-temali keretanya untuk kutunggangi dengan pelana pilihan yang empuk, kentut pun bisa diredam karena saking empuknya. Berkeliling garasi bak joki professional, dikawal oleh ajudan serta staf yang menonton dari pinggir garasi serta stand by dengan air mineral untuk mengatasi haus serta suplemen impor untuk mengembalikan ion tubuh yang hilang.

Asyik…sungguh asyik menunnggangi kuda pilihan di garasi dengan luas spektakuler ini, tak ada udara panas yang kurasakan karena sejuknya berasal dari ventilasi-ventilasi yang didesain oleh ahli rancang bangunan berpengalaman dengan perhitungan yang matang sehigga menghasilkan sirkulasi udara yang lancar dan menyejukkan. Tapi entah mengapa, di tengah asyik masyukku berkuda, kurasakan geli di telapak kakiku… aneh… geli sekali sehingga menggangguku menunggang kuda di garasiku ini… geli terus menggelayuti telapak kakiku… hingga akhirnya akupun….terbangun…

Hhhh…Cuma mimpi jadi patih kerajaan… Lagi enak-enak mimpi berkuda diganggu oleh geli tak tertanggungkan gara-gara telapak kakiku disodok-sodok oleh si Miming, kucing kecilku yang tidak berbuntut sama sekali itu. Astaghfirullah, akhirnya kezalimanku di dalam mimpi sebagai patih yang egois dengan nilai kepantasan versi perspektif pribadi dalam kurungan garasi seluas tiga kali gedung padepokan itu berakhir. Si Miming, kucing kecil yang sholehah karena membangunkanku ketika azan subuh tiba. Sejenak kuberpikir, harga Royal Crown yang dipakai pejabat di Jakarta ternyata hampir setara dengan kereta kudaku, juga senilai dengan tiga bangunan gedung sekolah baru... Seperti sekolahku yang sekarang sedang dibangun...
.