Sekolahku Di Rawang (Part-1)

Tadi pagi setelah mengantar bapakku dengan kuda tua kami di tempat kerja beliau di kampungnya, aku sengaja mengambil jalan pulang memutar melewati sekolahku dulu, MTsN Panampung di Rawang, Panampung. Sekolah yang ku masuki tidak pada masa pendaftaran, karena aku sendiri merupakan pindahan dari pesantren yang cuma sempat ku tinggali selama dua bulan, akibat tidak betah tinggal di pesantren karena tidak bisa “malala” kemana-mana.

Sekolahku Di Rawang (Part-1)
source: mtsnpanampuang.blogspot.com
Disekolah inilah aku mulai merasakan penggemblengan yang sesungguhnya dari para guru yang bersahaja. Ibu Marlis yang memberikan pelajaran Al-Qur`an Hadits, setiap murid diharuskan menghafal beberapa Ayat maupun Hadits yang akan dibahas di hari berikutnya. Jika tidak hafal, disetrap sambil mengulang hafalan sampai benar-benar hafal sob… atau paling tidak dicubit di pangkal lengan. Maklumlah, namanya baru tamat SD masih kebawa-bawa tabiat di masa SD, suka main. Tapi ambil positifnya, anggap saja itu sebuah jalan pintas untuk menjadi selebriti, selebriti setrapan tentunya…hehe… Kemudian Pak As’ad Martha, guru Bahasa Inggris yang menurutku benar-benar berjiwa muda serta humoris, humoris habis pula. Jarang marah tapi sering membuat kami bersimbah air mata, bersimbah air mata karena kebanyakan tertawa dengan segala humor beliau di tengah materi pelajaran yang diberikan.

Ada lagi Pak Irwanto, guru yang memiliki sepupu yang menjadi wakil rakyat di pusat ini, serta ditopang badan berkategori subur tapi sangat lincah bermain badminton jago ngebut dengan Vespa-nya ini adalah seorang guru Matematika. Matematika yang sekarang cukup ku pahami dengan Makin Tekun Makin Tidak Karuan karena saking rumitnya, rumit bagiku. Selanjutnya Ibu Radius, guru Bahasa Indonesia bagi anak bangsa ini yang sudah banyak menggunakan Bahasa Indonesia yang melenceng dari langgam yang seharusnya, barangkali termasuk tata bahasa blog ini. Terutama bahasa para wakil rakyat yang sudah dihinggapi bibit-bibit bangsatisme sehingga terlihat dan terdengar tidak sopan untuk dipertunjukkan di hadapan rakyat yang diwakilinya. Tapi perkembangan bahasa sekarang juga punya nilai lebih untuk benda-benda yang marketable, misalnya; Terdakwa, dimaknai dengan Terbukti Tidak Wangi sebagai bahasa iklan untuk produk deodoran, ada-ada sajha… Kembali ke Ibu Radius, di tengah pelajaran tata bahasa yang beliau berikan, terselip kata-kata motivasi serta nasihat berharga bagi kami, murid-muridnya yang terkadang tidak tahu diri ini. Maafkan kami guru…

Melalui sekolah ini pula aku mengenal istilah penyunatan, karena adanya sedikit penyimpangan keuangan berupa penyunatan beasiswa beberapa murid yang berprestasi, beasiswa yang seharusnya diberikan penuh kepada mereka malah “dikuduang” sepuluh persen walaupun akhirnya dkembalikan, pengudungan yang kemudian aku kenal dengan istilah seksi yang bernama korupsi, walaupun saat itu kecil-kecilan. Selain itu aku kemudian paham maksud mark up yang sesungguhnya. Ceritanya ketika kelas Tiga saat belajar Fisika bersama guru yang aku lupa namanya karena beliau adalah guru yang diperbantukan dari sekolah lain. Waktu itu adalah pengenalan tentang komponen elektronika, masing-masing kami saat itu dipinjamkan resistor, karena pembahasan tentang tentang resistor saat itu agak panjang karena membahas warna yang terdapat di resistor. Warna tersebut mempunyai arti nilai hambatan listrik yang diperhitungkankan dalam satuan Ohm. Nah..saat pembagian resistor itulah beliau mewanti-wanti agar resistor yang sangat imut itu jangan sampai hilang karena harganya tiga ratus rupiah. Sobat...yang ku tahu saat itu harga resistor adalah dua puluh lima rupiah. Di saat libur panjang kenaikan kelas ke kelas Tiga aku sudah lebih dahulu ambil star untuk mempelajari elektronika selama sebulan penuh dengan menantu pamanku yang pulang dari Jakarta serta merupakan seorang guru Fisika di sana, gara-gara tertarik dengan pola kerja lampu Running Led yang dipakai ketika pernikahan saudara sepupuku, maka saat itu pulalah aku tahu harga beberapa komponen elektronika termasuk resistor yang sesungguhnya berharga dua puluh lima rupiah.

Tampaknya cukup ini dulu pengalamanku tentang sekolahku di Rawang, Insya Allah nanti akan kulanjutkan di Part-2
Pesan Tiket Online Murah
.