Tuan Manun dan "Tungkek Parambah"

Tuan Manun...

Nama sebenarnya adalah Muhammad Nur, tapi entah kenapa dan sejak kapan lebih dikenal dengan panggilan Manun. Dia seorang tua yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bertani di sawahnya dan menjadi penggarap
di sawah orang lain. Kehidupannya dari kecil -berdasarkan cerita tentang dirinya yang ku ketahui- lebih banyak dihabiskan dalam keluarga petani yang dalam hitungan tatanan sosial kala zamannya adalah orang yang penuh kesusahan. Sehingga dirinya tidak pernah mengecap bangku pendidikan.



Berperawakan kecil dan agak bungkuk, tapi siapa sangka punya tenaga yang berlebih untuk bekerja mengandalkan ototnya di sawah. Dia tidak bisa berbicara lancar karena imbas dari cacar air yang dideritanya ketika masih kecil, serta tidak semua orang bisa memahami apa yang dibicarakannya, kecuali saudara-saudara dan orang-orang terdekatnya. Aku sedikit beruntung bisa memahami apa yang diucapkannya. Sebenarnya jika melihat ukuran umur, aku seharusnya memanggil dengan sebutan kakek, tapi berdasarkan garis keturunan yang setara, kami masih sama satu kakek, jadi aku dianjurkan memanggil dengan panggilan Tuan, yang berarti kakak.

Ada sebuah cerita menarik tentang cacar air yang dideritanya ketika kecil tersebut, saat itu masih zaman penjajahan Belanda. Biasalah...Belanda melakukan semacam patroli untuk mencari orang-orang yang mereka anggap ekstrimis terhadap pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Nah...saat itulah ketika Belanda melakukan patroli rutin di sekitar kampungku, yang juga kampung Tuan Manun, sekelompok pasukan Belanda itu memasuki rumahnya, dan saat itu kaum lelaki sudah bersembunyi terlebih dahulu untuk menghindari patroli Belanda. Tinggallah Tuan Manun Kecil di rumahnya dengan keadaan tubuh yang saat itu diselimuti cacar air. Ketika Belanda memasuki rumahnya, Tuan Manun Kecil langsung tertawa melihat ada "tamu" yang datang. Sontak saja mereka langsung kabur dan lari dari rumah itu karena disambut dengan tertawa itu. Akhirnya belakangan diketahui bahwa Belanda sangat takut akan tertular cacar air, sehingga mereka langsung ngacir... Mungkin ini salah satu senjata rahasia dalam peperangan yang tidak terungkap dalam sejarah negeri tercinta ini. Yaitu; cacar air. Yang sering dibicarakan dalam sejarah adalah kehebatan bambu runcing. yang bisa mengalahkan tank Belanda. Bahkan dalam strategi perang ala Sun Tzu pun ini tidak tercantum. Hebat betul cacar air ini... menurutku ini semacam senjata biologis yang cukup mumpuni...

Oke, kita tinggalkan cacar air, back to Tuan Manun, pola hidup Tuan Manun yang sederhana cukup menjadi perhatianku ketika beliau tinggal di rumah orang tuaku untuk beberapa lama ketika aku masih sekolah di MtsN dulu. Tidak mau tidur di kasur, makan apapun yang ada, rokoknya pun tetap yang itu-itu saja; Kansas kuning yang sekarang sudah sangat langka, atau mungkin sudah tidak diproduksi lagi. Selain itu jika diberi uang, hanya menerima uang dengan gambar tertentu saja, karena beliau seorang buta aksara dan tidak pernah meminta. Tapi mengerti untuk apa dan kemana uang itu dibelanjakan. Setiap sekali dua minggu, tepatnya di hari Senin atau Kamis, mencukur kumis dan jenggotnya di tukang cukur dekat Pasar Baso, kecamatan sebelah. Sehingga ketika pulang sudah dalam keadaan klimis dan kinyis-kinyis.

Satu hal yang sangat menarik dalam kisah hidupnya, adalah saat "mairiak" padi; sebuah cara merontokkan gabah ketika panen padi. Caranya ialah merontokkan gabah dengan diinjak-injak dan diguling-gulingkan sehingga padi tersebut rontok. Cara yang sangat konvensional dan rasanya relatif, relatif karena bagi orang tertentu itu akan sangat menyakiti telapak kaki terkena tajam dan runcingnya buah padi. Namun bagiku malah geli, telapak kaki terasa digelitik tapi aku harus menahan ketawa supaya tidak dianggap gila. Antisipasinya bagi sebagian orang adalah menggunakan sepatu boot yang biasa dipakai untuk proyek. Nah..saat mairiak padi itulah ada orang lain yang ikut bersamanya. Di sela-sela mairiak padi tersebut tiba-tiba saja Tuan Manun memukul orang tersebut dengan "tungkek parambah", semacam tongkat pemukul padi yang juga digunakan untuk menopang keseimbangan badan saat menginjak padi yang diiriak. Pukulan yang membuat orang tersebut sesak nafas dan terpana karena mendarat di punggung dan mungkin dengan tenaga yang cukup besar. Orang lain yang berada di sekitarnya kaget. Akhirnya didapat keterangan bahwa orang yang dipukul tersebut pernah bercanda yang membuat Tuan Manun tersinggung. Menurutku itu adalah sebuah pembelaan diri Tuan Manun terhadap harga dirinya yang dilecehkan.

Dari sini dapat diambil suatu pelajaran bahwa ketika seseorang terlihat bodoh di mata kita, karena keterbatasan pendidikan atau mungkin tidak sekolah sama sekali, tapi masih bisa menjaga dan menjunjung tinggi harga dirinya dari sikap merendahkan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya. Namun yang sangat disayangkan saat ini adalah, banyak orang berpendidikan yang menjerumuskan harga dirinya dengan sikap dan perilaku yang merugikan orang banyak, contohnya dengan korupsi, berbicara yang tidak pantas di gedung dewan yang terhormat (apakah sekarang masih terhormat?) serta cara-cara rendah lainnya.
Pertanyaannya adalah: apakah kita termasuk orang yang menjaga harkat dan martabat serta menjunjung harga diri seperti Tuan Manun dengan "tungkek parambah" tersebut? Wallahu A'lam...

Note:
Balai Gurah, enam minggu setelah wafatnya Tuan Manun, dalam usia 81 tahun... Semoga beliau berbahagia dengan bidadari di sana, dan terlepas dari gagap gagu lidahnya yang dimilikinya ketika hidup...
Amiin....

suamiku kini tlah tiada dan penyesalanku yg terus ada

Sobat semua...
Judul postingan ini saya ambil dari catatan seorang Facebooker bernama Rina Amalina. Saya beranikan diri untuk mempublikasikan ini karena di catatan akhirnya tertulis:

"Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara,teman,kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua."

Mari kita baca dan renungi catatan yang telah beliau buat ini;

Ini adalah kisah nyata di kehidupanku
Seorang suami yg kucintai yang kini telah tiada
Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku
Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku
Suamiku adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.

Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah,tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah.
Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku,tak mengerti aku,dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.
Tapi kini aku tahu.
Semua ucapanku selama ini salah.dan hanya menjadi penyesalanku karena dia telah tiada.
Temannya mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya.
Bahwa dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya.
Dia berkata, “ setiap kali kami ajak dia makan siang,mas anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali,alasannya slalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “ aku belum melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang.lalu bagaimana aku bisa makan siang.” Saat itu tertegun,aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga,tapi suamimu adalah sosok pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”
Aku menahan air mataku karena aku tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini aku sudah kehilangan sosok yang hebat.

Teringat akan amarahku pada suamiku,aku selalu mengatakan dia slalu menyibukkan diri pada pekerjaan,dia tak pernah peduli pada anak kita. Namun itu semua salah. Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi, “ perusahaan kecil CV.Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera. Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa,kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran. Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin,sosok yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu.”
Membaca itu,benar2 baru kusadari.betapa suamiku menyayangi putraku.betapa dia mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita.

Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “ ibu capai?istirahat dulu saja”
Dengan kasar kukatakan, “ ya jelas aku capai,semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak,urus cucian,masak,ayah tahunya ya pulang datang bersih.titik.”
Sungguh,bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.

Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya.tepat setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami. Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku.
“pak kenapa cari klinik yang termurah?saya rasa bapak bisa berobat di tempat yg lebih mahal dan lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula”
Dan suamiku menjawab, “ tak usahlah terlalu mahal. Aku cukup saja aku ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas.”
Tuhan..Maafkan hamba Tuhan,hamba tak mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga ini. Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada.

Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa.
Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari.
Banggalah pada suamimu,karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya.
Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana.
Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu.
Selagi dia kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar.
Dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.

Teruntuk suamiku.
Maafkan aku sayang.
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.
Aku janji pada diriku sendiri teruntukmu.
Putramu ini akan kubesarkan seperti caramu.
Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu.
Aku bangga padamu,aku sayang padamu.

Istrimu
Rina

Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara,teman,kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

*judul beserta isi catatan ini disalin sesuai aslinya tanpa perubahan sama sekali

Top Cheer Anniversary...


Happy Birthday to TOP CHEER..
11 Maret 1998 - 11 Maret 2010...

Demikian sms yang masuk ke handphoneku beberapa menit yang lalu, sebuah ucapan selamat untuk seluruh anggota Top Cheer. Top Cheer..??? Apaan tuh..??

Ahaa... Inilah sebuah kisah indah di masa sekolahku dulu, MAN Bukittinggi 1. Sekarang sudah menjadi MAN Model Bukittinggi, sebagai sekolah yang masuk kategori diperhitungkan keberadaanya, dalam hal prestasi tentunya... Lalu Top Cheer apa..?? Hehehe... Iya iya... Baiklah... Top Cheer sebenarnya adalah sebuah perkumpulan kecil yang dibentuk dari kebersamaan beberapa orang murid di sekolahku itu, tepatnya ketika itu 8 orang temanku. Dari kebiasaan mereka berkumpul di kantin Tek Nuik yang berada di dekat aula sekolahku, maka tumbuhlah ide untuk membentuk sebuah perkumpulan kecil, semacam geng mungkin. Kelahiran Top Cheer sendiri terjadi dari sebuah spontanitas kolektif dari 8 orang temanku tersebut, gara-gara makan bakwan yang sangat enak di kantin Tek Nuik tersebut, -mungkin bakwan yang dibuat dengan penuh integritas oleh Tek Nuik & Crew-. Jadi hadirlah sebuah cletukan, bakwan yang rasanya top cer, top cer bukan tokcer, tapi top cer, akhirnya tumbuh ide spontan untuk membuat perkumpulan Top Cheer yang diawaki oleh 8 orang temanku itu.

Lalu bagaimana denganku? Adapun diriku sendiri merupakan anggota yang terakhir, direkrut karena punya nilai strategis kali ya... Hehehe..apapun alasannya, bagiku ini sebuah kebahagiaan punya komplotan untuk yang pertama kalinya. Keberadaan kami pun bukan hanya karena untuk menunjukkan eksistensi di sekolah, tapi lebih mengarah ke hal yang positif, misalnya; belajar bersama, mengolah contekan (gubrakkk...!!! -yang ini jangan ditiru gan- nanti ditimpukin bata), membantu menyelesaikan permasalahan pribadi anggota yang punya masalah (sippp..!!! -kalo yang ini boleh ditiru gan- pantas dikasih cendol, hehehe...), comblangin anggota yang lagi gedebuk love, jalan-jalan ke Badoray di Limo Kampung Sungai Puar dengan air terjun yang indah dan airnya jatuh dari atas ke bawah... .....????? (ini gak bohong), enak lho air terjunnya, bisa dipake buat olah kanuragan, misalnya membalikkan airnya biar balik lagi ke atas... wuihh... (ini belum pernah dicoba), pulang sekolah bareng, ngrecokin lauk pauk teman-teman sekolah yang kos karena jauh dari rumahnya. Apapun itu, yang jelas apa yang kami alami ketika itu adalah sebuah persahabatan, dan semoga sampai selanjutnya tetap berlanjut setelah Anniversary yang ke-13 ini.

Bagiku, keberadaan Top Cheer ini memberikan pelajaran indahnya persahabatan, bahkan lebih dari itu, yaitu sebuah persaudaraan. Siapa tau nanti besanan..Wkwkwkwkwk... Yang jelas, semua persahabatan itu indah. Namun yang menjadi pertanyaanku, kenapa lahirnya pas tanggal 11 Maret yang merupakan Hari Supersemar?

Garasiku Seluas Tiga Gedung Padepokan

Aku punya sebuah kereta kuda, dengan empat roda, dengan kusir yang bersahaja tapi berwibawa, walaupun terkadang aku yang mengendalikannya, kereta kuda itu. Kereta kuda dengan lentera, empat buah jumlahnya, dua di belakang dua di muka, yang jelas bukan di muka kuda, nanti kalah bersaing dengan kacamata kuda. Maka terjadilah kompetisi yang mengerikan antara lentera dan kacamata kuda. Kuda merasa keberatan dengan kacamata, ditambah lagi dengan lentera di kepalanya, sehingga membuat celaka bagi penumpang kereta kuda, walaupun itu hanya untukku dan keluarga. Maka semua itu harus diantisipasi dengan seksama, letakkanlah lentera di tempat yang sepantasnya, seperti yang sobat lihat di kereta kuda seperti biasanya, di depan sebelah kanan dan kiri tempat duduk kusir yang bersahaja tapi berwibawa. Walaupun terkena risiko dikentuti kuda, tetapi terima saja dengan lapang dada, karena belum pernah kulihat kuda yang mendorong kereta kuda, kecuali ada sebuah ide gila untuk membuatnya, barangkali ini adalah sebuah ide gila itu.

Selanjutnya tentang kuda, sederhana saja, kuda didatangkan dari Australia, hitam pekat berkilat lincah bergelora. Tapi itu hanya untuk sementara saja, karena kuda harus menjalani rutinitas seolah-olah kerja paksa, dalam perspektif kuda tentunya, diperkuda untuk menarik kereta kemana-mana, demikianlah kira-kira gambarannya.

Tapi yang menakjubkan adalah garasi kereta kuda yang sangat luas, luaaaaas sekali…. Jika ada pertandingan futsal bisa dimodifikasi dan disewakan sehingga menghasilkan profit yang menggila. Demikian juga jika ada turnamen bulutangkis maupun tenis. Tapi tidak untuk arena pacuan kuda, karena ini dikhususkan hanya untuk kudaku dan keretanya. Garasi seluas tiga kali gedung padepokan dan tingginya tiga kali gedung padepokan, kurasa itu wajar-wajar saja untuk kereta kudaku yang juga seharga Satu Koma Tiga Milyar ini. Dengan fitur-fitur canggih yang melengkapinya, foot step yang bertatahkan emas 18 karat, lentera yang bisa geleng-geleng mengikuti kemana arah kemudi yang diatur kusir, power window serta central door lock, alarm anti kriminal yang bisa berteriak sepuluh bahasa, bahasa yang kesepuluh adalah meringkik, bahasa kuda yang menarik kereta ini, sebagai sebuah bentuk apresiasi untuk kuda hitam pekat berkilat lincah bergelora ini atas jasa-jasanya. Apresiasi yang lebih dari hanya sekedar rumput dan sagu bermutu paling tinggi. Adapun bahasa yang kesembilan adalah siulan kusir, karena kenyamanan yang diberikan kereta kuda ini membuat kusir bersiul-siul karena nyamannya. Sehingga pantaslah kiranya ide menggunakan siulan kusir ini diimplementasikan sebagai bahasa kesembilan alarm anti kriminal di kereta kuda ini.

Berlandaskan kepada pedoman nilai nominal yang dimiliki kereta kuda ini, maka tidak salahlah kiranya jika kubuat garasi yang seluas tiga kali gedung padepokan ini, dengan tinggi yang juga tiga kali gedung padepokan tersebut. Tanpa garasi seluas itupun sebenarnya cukup jika hanya kubuat semuat kereta kudaku, dana untuk garasi bisa digunakan untuk membuat tiga gedung padepokan. Tapi sekali lagi aku ingin membuatnya dengan luas yang spektakuler itu. Aku menilai ini sebuah kepantasan bagiku, karena diriku bukan orang sembarangan, aku adalah seorang pejabat kerajaan, seorang patih yang membantu raja dalam mengurus rakyat. Jerih payah serta tetes keringatku pantas diganjar dengan dengan fasilitas yang bagiku setimpal itu, sangat pantas Sobat. Tidak mudah bagiku untuk mendapatkan jabatan yang prestisius ini, bersaing dengan kandidat lain dalam segala macam seleksi serta fit and proper test plus properti. Sedikit senggol kiri senggol kanan dengan assesoris lobi sana-sini, maka sekarang inilah aku dengan segala apa yang melekat di diriku serta menjadi fasilitasku. Kutegaskan kepadamu, ini hanya fasilitas.

Di garasi yang luasnya spektakuler ini terkadang aku melepas kudaku dari belenggu tali-temali keretanya untuk kutunggangi dengan pelana pilihan yang empuk, kentut pun bisa diredam karena saking empuknya. Berkeliling garasi bak joki professional, dikawal oleh ajudan serta staf yang menonton dari pinggir garasi serta stand by dengan air mineral untuk mengatasi haus serta suplemen impor untuk mengembalikan ion tubuh yang hilang.

Asyik…sungguh asyik menunnggangi kuda pilihan di garasi dengan luas spektakuler ini, tak ada udara panas yang kurasakan karena sejuknya berasal dari ventilasi-ventilasi yang didesain oleh ahli rancang bangunan berpengalaman dengan perhitungan yang matang sehigga menghasilkan sirkulasi udara yang lancar dan menyejukkan. Tapi entah mengapa, di tengah asyik masyukku berkuda, kurasakan geli di telapak kakiku… aneh… geli sekali sehingga menggangguku menunggang kuda di garasiku ini… geli terus menggelayuti telapak kakiku… hingga akhirnya akupun….terbangun…

Hhhh…Cuma mimpi jadi patih kerajaan… Lagi enak-enak mimpi berkuda diganggu oleh geli tak tertanggungkan gara-gara telapak kakiku disodok-sodok oleh si Miming, kucing kecilku yang tidak berbuntut sama sekali itu. Astaghfirullah, akhirnya kezalimanku di dalam mimpi sebagai patih yang egois dengan nilai kepantasan versi perspektif pribadi dalam kurungan garasi seluas tiga kali gedung padepokan itu berakhir. Si Miming, kucing kecil yang sholehah karena membangunkanku ketika azan subuh tiba. Sejenak kuberpikir, harga Royal Crown yang dipakai pejabat di Jakarta ternyata hampir setara dengan kereta kudaku, juga senilai dengan tiga bangunan gedung sekolah baru... Seperti sekolahku yang sekarang sedang dibangun...

Sekolahku Di Rawang (Part-2)

Setelah menjelajah sekolahku di Part-1, maka ini adalah kelanjutannya..

Satu hal yang tak kalah menarik ketika berada di sekolahku ini, MTsN Panampung di Rawang, tentunya adalah kisah anak muda yang katanya mulai mengenal cinta, klise memang klise sobat… kliseeeee sekali… tapi selalu menarik bagi para beginner. Di kelas Satu, aku sudah dipercaya menjadi wakil kelas untuk mengikuti MTQ antar kelas maupun antar SLTP tingkat kecamatan, dengan bekal suara yang alhamdulillah masuk nominasi untuk mengikuti MTQ hasil gemblengan Ibu Lihayati, Ibu Salmi Ghazali, Ustadz Salman Al-Farisi dan tentunya yang istimewa gemblengan ibuku yang ketika remaja juga juara MTQ. Akan tetapi untuk suatu hal, karena mungkin untuk alasan emansipasi atau bahasa kerennya Kesetaraan Gender, tentunya selain peserta putra yaitu diriku, harus ada peserta putri yang mendampingi. Maka dipilihlah seorang teman sekelas yang berinisial NS. Seorang gadis hitam manis, maniiiis sekali… apalagi kalau tersipu-sipu Ku sengaja mencantumkan inisial bukan karena dia seorang tersangka atau terdakwa –Terbukti Tidak Wangi-. Tapi lebih kepada alasan privasi.

Sekolahku Di Rawang (Part-2)
source: mtsnpanampung.wordpress.com
Nah…di beberapa MTQ itulah aku dan NS hampir selalu berdampingan sebagai juara satu kategori Putra dan Putri, atau aku sebagai juara satu dan dia juara dua dalam kategori gabungan. Entah karena keisengan siapa, mulailah berkembang isu, rumor, gosip, ghibah dan entah apa lagi namanya bahwa aku ada affair dengan NS. Aku enjoy aja dengan segala ketidak-pedulian terhadap segala desas-desus yang menimpaku, karena aku lebih mengambil sikap profesional sebagai wakil kelas maupun wakil sekolah dalam MTQ. Tetapi rupanya ada sekelompok temanku yang menyokong agar aku pedekate terhadap NS bahkan ada yang siap mendiktekan surat cinta untukku. Bodohnya, ide konyol menulis surat diktean itu ku lakukan juga. Apa responnya? Hehehe…silakan sobat perkirakan sendiri.. itulah pengalaman tentang relationship yang ku alami yang mungkin merupakan Cinta Monyet atau barangkali Cinta Lutung. Tapi aku sangat mengapresiasi teman-temanku yang memberikan support dalam bentuk teamwork untuk memprovokasiku melakukan pedekate. Nah..di saat itulah aku juga mengenal dasar-dasar teamwork walaupun cuma dalam rangka team provokator misi surat cinta dikteanku. Terimakasih teman-temanku… Wi Ar Pren Poreper.. By The Way, kapan kita reunian besar-besaran? Tidak sekedar temu kangen, sekalian bikin partai… hehehe…

Kembali ke kisah konyolku, yang cukup mengejutkanku, seorang guru muda mata Pelajaran Biologi malah ikut menjadi supporterku… hal lain yang lebih menghebohkan dan menggetarkan adalah; sebagian besar adik-adik kelasku juga ikut untuk memberikan dukungan. Tapi ajaibnya –sepengetahuanku-, cuma satu guru itu saja yang mengetahui. Sungguh sebuah konspirasi yang tak terkira kerahasiaannya, mungkin termasuk kategori Top Secret berjamaah dengan level A-1. Berjamaah karena kerahasiaannya dijamin bersama, persis perangai intel Melayu, yaitu intel yang menunjukkan kesan bahwa dia itu seorang intel, demikian yang ditulis Pak A.C. Manullang dalam bukunya yang berjudul; Menguak Tabu Intelijen. Penjelasan paragraf Tiga ini terjadi ketika aku sudah kelas Tiga.

Dari sekelumit kisah sekolahku di Rawang ini, menjadi bagian tak terlupakan dari rantai kehidupanku yang seiring bertambahnya waktu, semakin tetap dilengkapi dengan rantai-rantai segar lainnya. So, bagaimana dengan NS? Sekarang dia sudah bekerja di sebuah LSM di Jakarta. Kemudian bagaimana dengan Tu Bi Kontinyu-nya? Wallahua’lam Bis Shawaab…
PayTren E-Money - Aplikasi Pembayaran Dari Smartphone Anda
.