Top Cheer Anniversary...


Happy Birthday to TOP CHEER..
11 Maret 1998 - 11 Maret 2010...

Demikian sms yang masuk ke handphoneku beberapa menit yang lalu, sebuah ucapan selamat untuk seluruh anggota Top Cheer. Top Cheer..??? Apaan tuh..??

Ahaa... Inilah sebuah kisah indah di masa sekolahku dulu, MAN Bukittinggi 1. Sekarang sudah menjadi MAN Model Bukittinggi, sebagai sekolah yang masuk kategori diperhitungkan keberadaanya, dalam hal prestasi tentunya... Lalu Top Cheer apa..?? Hehehe... Iya iya... Baiklah... Top Cheer sebenarnya adalah sebuah perkumpulan kecil yang dibentuk dari kebersamaan beberapa orang murid di sekolahku itu, tepatnya ketika itu 8 orang temanku. Dari kebiasaan mereka berkumpul di kantin Tek Nuik yang berada di dekat aula sekolahku, maka tumbuhlah ide untuk membentuk sebuah perkumpulan kecil, semacam geng mungkin. Kelahiran Top Cheer sendiri terjadi dari sebuah spontanitas kolektif dari 8 orang temanku tersebut, gara-gara makan bakwan yang sangat enak di kantin Tek Nuik tersebut, -mungkin bakwan yang dibuat dengan penuh integritas oleh Tek Nuik & Crew-. Jadi hadirlah sebuah cletukan, bakwan yang rasanya top cer, top cer bukan tokcer, tapi top cer, akhirnya tumbuh ide spontan untuk membuat perkumpulan Top Cheer yang diawaki oleh 8 orang temanku itu.

Lalu bagaimana denganku? Adapun diriku sendiri merupakan anggota yang terakhir, direkrut karena punya nilai strategis kali ya... Hehehe..apapun alasannya, bagiku ini sebuah kebahagiaan punya komplotan untuk yang pertama kalinya. Keberadaan kami pun bukan hanya karena untuk menunjukkan eksistensi di sekolah, tapi lebih mengarah ke hal yang positif, misalnya; belajar bersama, mengolah contekan (gubrakkk...!!! -yang ini jangan ditiru gan- nanti ditimpukin bata), membantu menyelesaikan permasalahan pribadi anggota yang punya masalah (sippp..!!! -kalo yang ini boleh ditiru gan- pantas dikasih cendol, hehehe...), comblangin anggota yang lagi gedebuk love, jalan-jalan ke Badoray di Limo Kampung Sungai Puar dengan air terjun yang indah dan airnya jatuh dari atas ke bawah... .....????? (ini gak bohong), enak lho air terjunnya, bisa dipake buat olah kanuragan, misalnya membalikkan airnya biar balik lagi ke atas... wuihh... (ini belum pernah dicoba), pulang sekolah bareng, ngrecokin lauk pauk teman-teman sekolah yang kos karena jauh dari rumahnya. Apapun itu, yang jelas apa yang kami alami ketika itu adalah sebuah persahabatan, dan semoga sampai selanjutnya tetap berlanjut setelah Anniversary yang ke-13 ini.

Bagiku, keberadaan Top Cheer ini memberikan pelajaran indahnya persahabatan, bahkan lebih dari itu, yaitu sebuah persaudaraan. Siapa tau nanti besanan..Wkwkwkwkwk... Yang jelas, semua persahabatan itu indah. Namun yang menjadi pertanyaanku, kenapa lahirnya pas tanggal 11 Maret yang merupakan Hari Supersemar?

Garasiku Seluas Tiga Gedung Padepokan

Aku punya sebuah kereta kuda, dengan empat roda, dengan kusir yang bersahaja tapi berwibawa, walaupun terkadang aku yang mengendalikannya, kereta kuda itu. Kereta kuda dengan lentera, empat buah jumlahnya, dua di belakang dua di muka, yang jelas bukan di muka kuda, nanti kalah bersaing dengan kacamata kuda. Maka terjadilah kompetisi yang mengerikan antara lentera dan kacamata kuda. Kuda merasa keberatan dengan kacamata, ditambah lagi dengan lentera di kepalanya, sehingga membuat celaka bagi penumpang kereta kuda, walaupun itu hanya untukku dan keluarga. Maka semua itu harus diantisipasi dengan seksama, letakkanlah lentera di tempat yang sepantasnya, seperti yang sobat lihat di kereta kuda seperti biasanya, di depan sebelah kanan dan kiri tempat duduk kusir yang bersahaja tapi berwibawa. Walaupun terkena risiko dikentuti kuda, tetapi terima saja dengan lapang dada, karena belum pernah kulihat kuda yang mendorong kereta kuda, kecuali ada sebuah ide gila untuk membuatnya, barangkali ini adalah sebuah ide gila itu.

Selanjutnya tentang kuda, sederhana saja, kuda didatangkan dari Australia, hitam pekat berkilat lincah bergelora. Tapi itu hanya untuk sementara saja, karena kuda harus menjalani rutinitas seolah-olah kerja paksa, dalam perspektif kuda tentunya, diperkuda untuk menarik kereta kemana-mana, demikianlah kira-kira gambarannya.

Tapi yang menakjubkan adalah garasi kereta kuda yang sangat luas, luaaaaas sekali…. Jika ada pertandingan futsal bisa dimodifikasi dan disewakan sehingga menghasilkan profit yang menggila. Demikian juga jika ada turnamen bulutangkis maupun tenis. Tapi tidak untuk arena pacuan kuda, karena ini dikhususkan hanya untuk kudaku dan keretanya. Garasi seluas tiga kali gedung padepokan dan tingginya tiga kali gedung padepokan, kurasa itu wajar-wajar saja untuk kereta kudaku yang juga seharga Satu Koma Tiga Milyar ini. Dengan fitur-fitur canggih yang melengkapinya, foot step yang bertatahkan emas 18 karat, lentera yang bisa geleng-geleng mengikuti kemana arah kemudi yang diatur kusir, power window serta central door lock, alarm anti kriminal yang bisa berteriak sepuluh bahasa, bahasa yang kesepuluh adalah meringkik, bahasa kuda yang menarik kereta ini, sebagai sebuah bentuk apresiasi untuk kuda hitam pekat berkilat lincah bergelora ini atas jasa-jasanya. Apresiasi yang lebih dari hanya sekedar rumput dan sagu bermutu paling tinggi. Adapun bahasa yang kesembilan adalah siulan kusir, karena kenyamanan yang diberikan kereta kuda ini membuat kusir bersiul-siul karena nyamannya. Sehingga pantaslah kiranya ide menggunakan siulan kusir ini diimplementasikan sebagai bahasa kesembilan alarm anti kriminal di kereta kuda ini.

Berlandaskan kepada pedoman nilai nominal yang dimiliki kereta kuda ini, maka tidak salahlah kiranya jika kubuat garasi yang seluas tiga kali gedung padepokan ini, dengan tinggi yang juga tiga kali gedung padepokan tersebut. Tanpa garasi seluas itupun sebenarnya cukup jika hanya kubuat semuat kereta kudaku, dana untuk garasi bisa digunakan untuk membuat tiga gedung padepokan. Tapi sekali lagi aku ingin membuatnya dengan luas yang spektakuler itu. Aku menilai ini sebuah kepantasan bagiku, karena diriku bukan orang sembarangan, aku adalah seorang pejabat kerajaan, seorang patih yang membantu raja dalam mengurus rakyat. Jerih payah serta tetes keringatku pantas diganjar dengan dengan fasilitas yang bagiku setimpal itu, sangat pantas Sobat. Tidak mudah bagiku untuk mendapatkan jabatan yang prestisius ini, bersaing dengan kandidat lain dalam segala macam seleksi serta fit and proper test plus properti. Sedikit senggol kiri senggol kanan dengan assesoris lobi sana-sini, maka sekarang inilah aku dengan segala apa yang melekat di diriku serta menjadi fasilitasku. Kutegaskan kepadamu, ini hanya fasilitas.

Di garasi yang luasnya spektakuler ini terkadang aku melepas kudaku dari belenggu tali-temali keretanya untuk kutunggangi dengan pelana pilihan yang empuk, kentut pun bisa diredam karena saking empuknya. Berkeliling garasi bak joki professional, dikawal oleh ajudan serta staf yang menonton dari pinggir garasi serta stand by dengan air mineral untuk mengatasi haus serta suplemen impor untuk mengembalikan ion tubuh yang hilang.

Asyik…sungguh asyik menunnggangi kuda pilihan di garasi dengan luas spektakuler ini, tak ada udara panas yang kurasakan karena sejuknya berasal dari ventilasi-ventilasi yang didesain oleh ahli rancang bangunan berpengalaman dengan perhitungan yang matang sehigga menghasilkan sirkulasi udara yang lancar dan menyejukkan. Tapi entah mengapa, di tengah asyik masyukku berkuda, kurasakan geli di telapak kakiku… aneh… geli sekali sehingga menggangguku menunggang kuda di garasiku ini… geli terus menggelayuti telapak kakiku… hingga akhirnya akupun….terbangun…

Hhhh…Cuma mimpi jadi patih kerajaan… Lagi enak-enak mimpi berkuda diganggu oleh geli tak tertanggungkan gara-gara telapak kakiku disodok-sodok oleh si Miming, kucing kecilku yang tidak berbuntut sama sekali itu. Astaghfirullah, akhirnya kezalimanku di dalam mimpi sebagai patih yang egois dengan nilai kepantasan versi perspektif pribadi dalam kurungan garasi seluas tiga kali gedung padepokan itu berakhir. Si Miming, kucing kecil yang sholehah karena membangunkanku ketika azan subuh tiba. Sejenak kuberpikir, harga Royal Crown yang dipakai pejabat di Jakarta ternyata hampir setara dengan kereta kudaku, juga senilai dengan tiga bangunan gedung sekolah baru... Seperti sekolahku yang sekarang sedang dibangun...

Sekolahku Di Rawang (Part-2)

Setelah menjelajah sekolahku di Part-1, maka ini adalah kelanjutannya..

Satu hal yang tak kalah menarik ketika berada di sekolahku ini, MTsN Panampung di Rawang, tentunya adalah kisah anak muda yang katanya mulai mengenal cinta, klise memang klise sobat… kliseeeee sekali… tapi selalu menarik bagi para beginner. Di kelas Satu, aku sudah dipercaya menjadi wakil kelas untuk mengikuti MTQ antar kelas maupun antar SLTP tingkat kecamatan, dengan bekal suara yang alhamdulillah masuk nominasi untuk mengikuti MTQ hasil gemblengan Ibu Lihayati, Ibu Salmi Ghazali, Ustadz Salman Al-Farisi dan tentunya yang istimewa gemblengan ibuku yang ketika remaja juga juara MTQ. Akan tetapi untuk suatu hal, karena mungkin untuk alasan emansipasi atau bahasa kerennya Kesetaraan Gender, tentunya selain peserta putra yaitu diriku, harus ada peserta putri yang mendampingi. Maka dipilihlah seorang teman sekelas yang berinisial NS. Seorang gadis hitam manis, maniiiis sekali… apalagi kalau tersipu-sipu Ku sengaja mencantumkan inisial bukan karena dia seorang tersangka atau terdakwa –Terbukti Tidak Wangi-. Tapi lebih kepada alasan privasi.

Sekolahku Di Rawang (Part-2)
source: mtsnpanampung.wordpress.com
Nah…di beberapa MTQ itulah aku dan NS hampir selalu berdampingan sebagai juara satu kategori Putra dan Putri, atau aku sebagai juara satu dan dia juara dua dalam kategori gabungan. Entah karena keisengan siapa, mulailah berkembang isu, rumor, gosip, ghibah dan entah apa lagi namanya bahwa aku ada affair dengan NS. Aku enjoy aja dengan segala ketidak-pedulian terhadap segala desas-desus yang menimpaku, karena aku lebih mengambil sikap profesional sebagai wakil kelas maupun wakil sekolah dalam MTQ. Tetapi rupanya ada sekelompok temanku yang menyokong agar aku pedekate terhadap NS bahkan ada yang siap mendiktekan surat cinta untukku. Bodohnya, ide konyol menulis surat diktean itu ku lakukan juga. Apa responnya? Hehehe…silakan sobat perkirakan sendiri.. itulah pengalaman tentang relationship yang ku alami yang mungkin merupakan Cinta Monyet atau barangkali Cinta Lutung. Tapi aku sangat mengapresiasi teman-temanku yang memberikan support dalam bentuk teamwork untuk memprovokasiku melakukan pedekate. Nah..di saat itulah aku juga mengenal dasar-dasar teamwork walaupun cuma dalam rangka team provokator misi surat cinta dikteanku. Terimakasih teman-temanku… Wi Ar Pren Poreper.. By The Way, kapan kita reunian besar-besaran? Tidak sekedar temu kangen, sekalian bikin partai… hehehe…

Kembali ke kisah konyolku, yang cukup mengejutkanku, seorang guru muda mata Pelajaran Biologi malah ikut menjadi supporterku… hal lain yang lebih menghebohkan dan menggetarkan adalah; sebagian besar adik-adik kelasku juga ikut untuk memberikan dukungan. Tapi ajaibnya –sepengetahuanku-, cuma satu guru itu saja yang mengetahui. Sungguh sebuah konspirasi yang tak terkira kerahasiaannya, mungkin termasuk kategori Top Secret berjamaah dengan level A-1. Berjamaah karena kerahasiaannya dijamin bersama, persis perangai intel Melayu, yaitu intel yang menunjukkan kesan bahwa dia itu seorang intel, demikian yang ditulis Pak A.C. Manullang dalam bukunya yang berjudul; Menguak Tabu Intelijen. Penjelasan paragraf Tiga ini terjadi ketika aku sudah kelas Tiga.

Dari sekelumit kisah sekolahku di Rawang ini, menjadi bagian tak terlupakan dari rantai kehidupanku yang seiring bertambahnya waktu, semakin tetap dilengkapi dengan rantai-rantai segar lainnya. So, bagaimana dengan NS? Sekarang dia sudah bekerja di sebuah LSM di Jakarta. Kemudian bagaimana dengan Tu Bi Kontinyu-nya? Wallahua’lam Bis Shawaab…

Bakwan Of Integrity

Ketika melihat sebuah kol putih, bawang merah, bawang putih, terigu, garam tergeletak tak berdaya di dapur, maka sebaiknya dan tidak ada salahnya jika aku manfaatkan semua benda-benda yang ada itu untuk membuat camilan. Daripada lidah hambar karena tidak mengunyah apa-apa. Tampaknya perlakuan yang lebih tepat untuk bahan-bahan yang sederhana itu adalah dibakwani, maksudnya dibuat bakwan. Walaupun tanpa wortel, tapi cukuplah memanfaatkan apa yang ada menjadi sesuatu yang amat sederhana tapi punya efek depan, yaitu mengenyangkan. Lha…perut ada di depan tho? Kalau setelah memakannya terjadi efek samping, maka periksakan pencernaan saudara-saudara ke pihak yang berkompeten dalam urusan membereskan pencernaan.

Bakwan Of Integrity
source: sarahquin.blogspot.com
Selanjutnya adalah mengolah semua bahan sederhana tersebut sebagaimana mestinya dalam prosedur membuat bakwan. Iris dengan pisau tajam dan ganyang sampai halus dengan batu penggilingan yang lebih dikenal dengan ulekan. Batu ulekan di tempatku hanya sebuah batu bulat hasil cetakan alam yang terbentuk oleh gerusan air sungai yang mengalir terus menerus dan mengelus bebatuan di dalamnya sehingga menjadi bentuk yang seperti demikian itu. Mungkin bagi orang yang tidak mengetahui karena keawamannya, batu seperti itu tidak lebih hanya dapat dijadikan sebagai pengganjal pintu yang kusennya miring karena kesalahan perhitungan tata konstruksi bangunan. Miring salah satu, miring pula semuanya. Berbeda dengan batu ulekan yang kutemukan di Jogja maupun di pulau Jawa pada umumnya yang sengaja dibentuk menyerupai pentungan aneh jika dilihat dari dekat dan serupa bumerang buntung jika dilihat dari jauh.

Next, bahan lainnya dicampurkan jadi satu dengan bahan sebelumnya yang sudah diganyang sampai ke akar-akarnya tersebut -tapi jangan disamakan dengan ganyang ideologi terlarang, karena ini adalah ganyang dalam arti yang sesungguhnya-, ditambah sedikit air lalu diaduk rata dan setelah rata, saatnya untuk eksekusi semua bahan tersebut. Perangkat eksekusi cuma sebuah wajan kecil untuk kapasitas tiga bakwan. Setelah warming up dengan minyak goreng, maka adonan bahan tadi dicemplungkan ke dalam minyak panas dengan takaran tertentu untuk mencapai ukuran yang proporsional walaupun dalam bentuk yang bebas berekspresi (tidak beraturan-red). Setelah proses selesai, maka lihatlah… bakwan yang yang dibuat dengan kesederhanaan, niat yang tulus serta penuh integritas ini dapat disajikan dengan ditemani saus tomat dan saus sambal (itupun kalau ada).

Beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam membuat karya apapun walaupun hanya setumpuk bakwan yang sederhana dan penuh integritas ini adalah komposisi bahan serta proporsionalitas yang yang harus diukur dengan kadar yang cermat sehingga menjadi karya yang paripurna. Komposisi yang dimaksud adalah komposisi lahir dan batin, komposisi lahir yang kumaksud adalah bahan-bahan yang sudah disebutkan di atas tadi. Adapun komposisi batin adalah berupa niat, do’a dengan harapan apa yang dihasilkan menjadi sesuatu yang bemanfaat, ketulusan hati serta integritas yang tinggi agar tercapai sebuah tingkat kepuasan tersendiri bagi penikmatnya. Dan bagaimana akhirnya? Selamat menikmati hidangan sederhana ini; Bakwan of Integrity.

Sekolahku Di Rawang (Part-1)

Tadi pagi setelah mengantar bapakku dengan kuda tua kami di tempat kerja beliau di kampungnya, aku sengaja mengambil jalan pulang memutar melewati sekolahku dulu, MTsN Panampung di Rawang, Panampung. Sekolah yang ku masuki tidak pada masa pendaftaran, karena aku sendiri merupakan pindahan dari pesantren yang cuma sempat ku tinggali selama dua bulan, akibat tidak betah tinggal di pesantren karena tidak bisa “malala” kemana-mana.

Sekolahku Di Rawang (Part-1)
source: mtsnpanampuang.blogspot.com
Disekolah inilah aku mulai merasakan penggemblengan yang sesungguhnya dari para guru yang bersahaja. Ibu Marlis yang memberikan pelajaran Al-Qur`an Hadits, setiap murid diharuskan menghafal beberapa Ayat maupun Hadits yang akan dibahas di hari berikutnya. Jika tidak hafal, disetrap sambil mengulang hafalan sampai benar-benar hafal sob… atau paling tidak dicubit di pangkal lengan. Maklumlah, namanya baru tamat SD masih kebawa-bawa tabiat di masa SD, suka main. Tapi ambil positifnya, anggap saja itu sebuah jalan pintas untuk menjadi selebriti, selebriti setrapan tentunya…hehe… Kemudian Pak As’ad Martha, guru Bahasa Inggris yang menurutku benar-benar berjiwa muda serta humoris, humoris habis pula. Jarang marah tapi sering membuat kami bersimbah air mata, bersimbah air mata karena kebanyakan tertawa dengan segala humor beliau di tengah materi pelajaran yang diberikan.

Ada lagi Pak Irwanto, guru yang memiliki sepupu yang menjadi wakil rakyat di pusat ini, serta ditopang badan berkategori subur tapi sangat lincah bermain badminton jago ngebut dengan Vespa-nya ini adalah seorang guru Matematika. Matematika yang sekarang cukup ku pahami dengan Makin Tekun Makin Tidak Karuan karena saking rumitnya, rumit bagiku. Selanjutnya Ibu Radius, guru Bahasa Indonesia bagi anak bangsa ini yang sudah banyak menggunakan Bahasa Indonesia yang melenceng dari langgam yang seharusnya, barangkali termasuk tata bahasa blog ini. Terutama bahasa para wakil rakyat yang sudah dihinggapi bibit-bibit bangsatisme sehingga terlihat dan terdengar tidak sopan untuk dipertunjukkan di hadapan rakyat yang diwakilinya. Tapi perkembangan bahasa sekarang juga punya nilai lebih untuk benda-benda yang marketable, misalnya; Terdakwa, dimaknai dengan Terbukti Tidak Wangi sebagai bahasa iklan untuk produk deodoran, ada-ada sajha… Kembali ke Ibu Radius, di tengah pelajaran tata bahasa yang beliau berikan, terselip kata-kata motivasi serta nasihat berharga bagi kami, murid-muridnya yang terkadang tidak tahu diri ini. Maafkan kami guru…

Melalui sekolah ini pula aku mengenal istilah penyunatan, karena adanya sedikit penyimpangan keuangan berupa penyunatan beasiswa beberapa murid yang berprestasi, beasiswa yang seharusnya diberikan penuh kepada mereka malah “dikuduang” sepuluh persen walaupun akhirnya dkembalikan, pengudungan yang kemudian aku kenal dengan istilah seksi yang bernama korupsi, walaupun saat itu kecil-kecilan. Selain itu aku kemudian paham maksud mark up yang sesungguhnya. Ceritanya ketika kelas Tiga saat belajar Fisika bersama guru yang aku lupa namanya karena beliau adalah guru yang diperbantukan dari sekolah lain. Waktu itu adalah pengenalan tentang komponen elektronika, masing-masing kami saat itu dipinjamkan resistor, karena pembahasan tentang tentang resistor saat itu agak panjang karena membahas warna yang terdapat di resistor. Warna tersebut mempunyai arti nilai hambatan listrik yang diperhitungkankan dalam satuan Ohm. Nah..saat pembagian resistor itulah beliau mewanti-wanti agar resistor yang sangat imut itu jangan sampai hilang karena harganya tiga ratus rupiah. Sobat...yang ku tahu saat itu harga resistor adalah dua puluh lima rupiah. Di saat libur panjang kenaikan kelas ke kelas Tiga aku sudah lebih dahulu ambil star untuk mempelajari elektronika selama sebulan penuh dengan menantu pamanku yang pulang dari Jakarta serta merupakan seorang guru Fisika di sana, gara-gara tertarik dengan pola kerja lampu Running Led yang dipakai ketika pernikahan saudara sepupuku, maka saat itu pulalah aku tahu harga beberapa komponen elektronika termasuk resistor yang sesungguhnya berharga dua puluh lima rupiah.

Tampaknya cukup ini dulu pengalamanku tentang sekolahku di Rawang, Insya Allah nanti akan kulanjutkan di Part-2
PayTren E-Money - Aplikasi Pembayaran Dari Smartphone Anda
.