Bangsatisme

Beberapa hari lalu di awal tahun 2010 ini, Lembaga Sensor Film melarang penayangan sebuah film berjudul “Bidadari Jakarta”, sebuah film yang menceritakan kehidupan keseharian anak jalanan dan perempuan ibukota. Alasan pelarangan ini adalah karena dalam film ini banyak mengandung kata-kata yang kasar dan tidak pantas untuk dipertontonkan serta diperdengarkan di depan publik. Selang beberapa hari kemudian, rakyat di negeri tercinta ini dipertontonkan serta diperdengarkan dengan ucapan kasar; “bang***” dari mulut seseorang yang “katanya” wakil rakyat yang terhormat. Sebuah realita yang menyedihkan, wakil rakyat dari anggota dewan yang seharusnya menjadi penyalur aspirasi rakyat yang diwakilinya mengumbar nafsu lidah tajam. Tontonan yang membuat anak kecil yang menyaksikan akan merekam ucapan itu di alam bawah sadarnya serta akan membawanya hingga dewasa, kemudian akan menjadi bagian dari kebiasaannya sebagai orang dewasa.
Pertanyaan yang perlu dikemukakan adalah; apakah film yang dilarang tersebut perlu dicabut pelarangannya? Supaya lebih adil, karena apa yang sudah dipertontonkan oleh sang wakil rakyat tersebut menafikan pelarangan tersebut. Supaya gambaran realita yang difilmkan betemu dengan realita dari gedung dewan tempat berteduh para wakil rakyat tersebut, termasuk sang wakil rakyat berlidah tajam tersebut. Sehingga menjadi realita yang sesungguhnya.

Yang sangat disayangkan, rekan fraksi dari sang wakil rakyat tersebut menganggap wajar terhadap apa yang sudah dilontarkan dari mulutnya. Entah mungkin karena motivasi solidaritas rekan sesama fraksi atau entah apa.. entahlah… Di sisi lain, apa yang sudah terlontar dari mulut sang wakil rakyat --yang dulu ku kenal sebagai raja minyak, entah minyak apa? Mungkin minyak uang pelicin-- tersebut, di kemudian hari bisa menjadi pembenaran bagi siapapun yang juga mengeluarkan kata-kata yang sebangsa dengan ucapan sang wakil rakyat yang sekali lagi; “katanya” terhormat itu. Sebab contoh sudah ada. Pembenaran tersebut bisa membungkam orang-orang yang masih ingin kelemah-lembutan tetap ada di dalam kehidupan di negeri yang dikenal sebagai negeri orang-orang yang ramah ini.

Satu hal yang perlu dicermati, jika perilaku dan kata-kata tersebut kembali beredar di tengah publik dan kemudian menjadi sesuatu yang membudaya, maka bukan sebuah hal yang mustahil akan tumbuh sebuah ideologi baru yang berlandaskan kekasaran lidah yang saya sebut saja ideologi “Bangsatisme”. Bangsatisme yang diambil dari ucapan; “bang***” yang keluar dari mulut sang wakil rakyat cukup menjadi representasi dari ideologi ini. Pertanyaannya adalah; apakah kita ingin ini menjadi ideologi baru diantara banyaknya ideologi yang merupakan ideologi buangan dari bangsa lain? Silakan tentukan jawabannya.

Jadi kembali berdasarkan ke pertanyaan awal, manakah yang patut untuk dilarang? Film yang saya sebut di atas atau bibit-bibit ideologi yang berlandaskan kekasaran lidah tersebut? Silakan tentukan lagi jawabannya.

Malam Itu...

Malam itu indah... jika diresapi dengan rasa syukur...
Malam itu juga sunyi... jika diresapi dengan jiwa yang hening...
Malam itu juga dingin... jika diresapi dengan hati yang berembun...
Malam itu mengerikan... jika diresapi dengan ketakutan...
Malam itu menyedihkan... jika diresapi dengan lelehan air mata...
Malam itu kejam... jika diresapi dengan segala macam niat jahat...
Malam itu tenang... jika diresapi dengan senyuman simpul...
Malam itu hangat... jika diresapi dengan kedamaian...
Malam itu riuh... jika diresapi dengan canda tawa...
Malam itu ricuh... jika diresapi dengan kemarahan...
Malam itu lapar... jika diresapi dengan kerakusan...
Malam itu terang... jika diresapi dengan menikmati cahaya bulan...
Malam itu gelap... jika diresapi dengan keterkurungan...
Malam itu berbinar... jika diresapi dengan tatapan syahdu untuk bintang malam yang berkedip...

Diantara semua malam yang ada, manakah yang terbaik untuk kita? terkadang ada satu bagian malam yang meresap ke dalam diri kita... Atau bahkan beberapa bagian malam yang teresapi dalam jiwa kita yang terus mengiringi deru hembus serta desah nafas di dalam siklus hidup kita... Malam menjadi sebuah rumah perenungan dalam jelang lelap setelah kantuk yang mulai menerpa dan memaksa mata untuk terpejam... Di saat jelang tidur yang lelap dan melenakan itu, satu hal yang baik dilakukan walaupun sejenak adalah meresapi langkah-langkah hidup yang sudah dijalani dalam satu hari, sudah dilalui dalam satu minggu, sudah dilewati dalam satu bulan dan bahkan semua yang sudah berjalan, berlalu serta lewat dalam satu tahun...

Semua yang diresapi menjadi hiburan terhadap diri...
Menjadi sejarah perjalanan hidup...
Menjadi renungan terhadap segala tindak-tanduk...
Menjadi pengingat terhadap semua hubungan persaudaraan, persahabatan serta kebersamaan dan semoga tidak untuk segala macam bentuk aroma perselisihan dan permusuhan... Kalaupun itu ada, maka memaafkan adalah lebih baik...
Menjadi penyadar terhadap segala kekeliruan..

Maka... Manakah di antara Malam Itu yang sobat pilih?

Padang, 23.52 WIB, 12.12.2009 @H2O Computer - Padang

Hari Ini Adalah Hari Pahlawan

Hari ini adalah Hari Pahlawan.. 10 November... 64 tahun yang lalu perjuangan para pahlawan Arek-arek Suroboyo menorehkan tinta emas dalam sejarah perjalanan bangsa ini hingga sekarang. Perjuangan mereka membekas dan menjadi sebuah jalan setapak sejarah yang membuktikan bahwa bangsa ini bukanlah bangsa yang lemah. Kobar semangat yang dibakar oleh kumandang Takbir dari seorang Bung Tomo menjadi pemicu niat untuk menjadi syahid dalam menghadapi penjajah zalim sekutu di kala itu.. Bekal senjata bambu runcing menghadapi senjata canggih penjajah tidaklah mengurangi motivasi mereka dalam mempertahankan kedaulatan bangsa yang baru saja diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta dengan mengatasnamakan Bangsa Indonesia.. Mempertahankan hak untuk menjadi bangsa yang merdeka, anak negeri yang merdeka dan manusia yang merdeka dari segala bentuk penjajahan hak, penjajahan keyakinan, penjajahan mental dan segala macam bentuk penjajahan yang notabene itu adalah sebuah bentuk kezaliman..

Hari ini adalah Hari Pahlawan.. 10 November.. Setelah 64 tahun dari masa penuh darah tetapi bertinta emas yang harum itu.. Bangsa kita "katanya" sudah merdeka, namun nyatanya masih ada penjajah baru yang berwujud muka anak bangsa sendiri, Indonesia ini. Penjajahan yang berbentuk perampasan hak warga negara secara berjamaah oleh oknum bangsa sendiri..!!! penjajahan yang berwujud bersih tetapi di dalamnya ada sebuh kebusukan yang teramat sangat.. Kebusukan sikap, kebusukan mental, kebusukan niat serta kebusukan yang lainnya.. Intinya, merekalah penjajah serupa tikus penggerogot yang akan menghancurkan tiang-tiang penopang bangsa ini.. Wujud nyatanya adalah mereka yang disebut koruptor...

Hari ini adalah Hari Pahlawan.. 10 November.. Setelah 64 tahun dari masa penuh darah tetapi bertinta emas yang harum itu.. Korupsi menjadi jalan pintas bagi para "penjajah dalam negeri" di negara ini untuk menghancurkan bangsanya sendiri, saudaranya sendiri, kerabatnya sendiri... Entah apa yang ada dalam benak mereka, sehingga secara sistematis seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, modus penggerogotan bangsa inipun semakin maju.. Tapi tercela...

Hari ini adalah Hari Pahlawan.. 10 November.. Setelah 64 tahun dari masa penuh darah tetapi bertinta emas yang harum itu.. Siapakah pahlawan yang akan menumpas "penjajah dalam negeri" ini? Siapakah pahlawan selanjutnya yang akan membasmi tikus penggerogot yang akan menghancurkan tiang-tiang penopang bangsa ini? Siapakah pahlawan yang akan membebaskan bangsa ini dari penjajahan domestik yang menyengsarakan ini?

Hari ini adalah Hari Pahlawan.. 10 November...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Salah satu dari deret bilangan yang ada di dunia ini yang dimulai dari... Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima... Enam... Tujuh... Delapan... Sembilan... Sepuluh... Sebelas... Dua belas... Tiga belas... Empat belas... Lima belas... Enam belas... Tujuh belas... Delapan belas... Sembilan belas... Dua puluh... Dua puluh satu... Dua puluh dua... Dua puluh tiga... Dua puluh empat... Dua puluh lima... Dua puluh enam... Dua puluh tujuh... dan... DUA PULUH DELAPAN... Itu dia...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Tujuh dikalikan dengan Empat...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Empat Belas dikalikan dengan Dua...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Bukan bilangan Prima...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Tanggal ketika Sumpah Pemuda diikrarkan...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Tahun ketika Sumpah Pemuda diikrarkan...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Bukan bagian dari perhitungan waktu sehari-semalam... karena yang ada cuma Dua Puluh Empat jam bukan Dua Puluh Delapan jam...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Hitungan umur dalam sendi ukuran ketuaan segala sesuatu yang terikat dengan waktu...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Bagian masa peralihan momentum menuju sesuatu yang lebih dan lebih...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Saat menjelang momentum itu diriku diingatkan dengan meledaknya sekering instalasi listrik di rumahku tadi malam sehingga menimbulkan percikan api sehingga aku tidur diselimuti kegelapan tanpa listrik... Kegelapan itu mengingatkan akan kematian...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Saat momentum itu berada sekarang...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Momentum itu berada pada diriku sekarang...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Yang ku peluk sekarang.....

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Aku...

Dua Puluh Delapan Itu Adalah...

Diriku hari ini...

Kampuang Nan -Runtuah Di Muko- Mato

Hari ini... Tiga pekan yang lalu... Gempa bumi mengguncang wilayah Sumatera Barat. Getarannya pun dapat dirasakan di Singapura... Maka dapat dibayangkan seperti apa kekuatannya, serta seperti apa dampak yang ditimbulkannya. Jelasnya, setelah beberapa jam terjadinya gempa bumi ini, berita di televisi adalah Breaking News yang menginformasikan tentang gempa ini.. Magnitude gempa ini adalah 7,6 Skala Richter versi BMKG dan 8,1 Skala Richter versi USGS (BMKG punya Amerika Serikat). Hari berikutnya, sebagian besar Breaking News di beberapa stasiun televisi mengumandangkan alunan Saluang Parasaian dan Bansi Palayaran yang menunjukkan betapa dahsyatnya akibat gempa ini, berdasarkan data Satkorlak jumlah korban mencapai 1117 korban jiwa yang meninggal karena tertimpa material bangunan yang runtuh serta tertimbun tanah perbukitan yang longsor. Dahsyat, benar-benar dahsyat serta menimbulkan kesedihn serta penderitaan yng masif bgi mereka yang merasakan, terutama yang kehilangan anggota keluarga, kehilangan anggota tubuh, harta benda, mata pencaharian dan banyak hal lainnya..

Kampuang ini telah sontak "runtuah" untuk beberapa bahagiannya, telah tiga minggu berlalu, hingga saat ini masih terus diberlakukan masa tanggap darurat hingga beberapa waktu yang belum ditentukan. Mungkin kita yang turut merasakan penderitan mereka yang tertimpa musibah serta ujian ini tidak hanya sekedar ikut merasakan penderitaan mereka. Lebih dari itu, marilah kita mencoba memposisikan diri sebagai bagian dari keluarga mereka untuk lebih mendekatkan hati kita serta berempati terhadap mereka. Agar apa yang sudah diakibatkan oleh gempa yang membuat runtuah ini tidak semakin meruntuhkan semua harapan-harapan mereka yang sudah mereka bangun sebelum terjadinya gempa ini. Bantu mereka dengan menyisihkan sebagian harta, tenaga, doa atau dengan upaya apapun yang kita bisa selama itu bisa membangun kembali harapan mereka yang retak serta mengembalikan keceriaan mereka seperti sebelumnya dalam merajut masa depan mereka agar tidak berlarut dalam sedih, tangis, harap-harap cemas serta kekhawatiran...

Semoga sebagian Kampuang Nan -Runtuah Di Muko- Mato ini dapat kembali dibangun, dipulihkan dan tidak lagi merepresentasikan alunan Saluang Parasaian dan Bansi Palayaran yang menyayat hati....

Minangkabau Bangkit...
PayTren E-Money - Aplikasi Pembayaran Dari Smartphone Anda
.